06 February 2019

Duka Petani Kebumen Usai Banjir Sepekan

Duka Petani Kebumen Usai Banjir Sepekan

Tanaman padi berwarna kecoklatan dan mati membusuk lantaran rendaman lebih dari empat hari. (Foto: Liputan6.com/Istimewa/Muhamad Ridlo)
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Bagi petani, tak ada yang lebih membahagiakan dari panen raya. Peluh dan biaya yang dikeluarkan selama berbulan-bulan terbayar lunas saat menyaksikan bulir padi menghampar di depan mata.

Barangkali, dibanding profesi lainnya, petani adalah salah satu yang membutuhkan kesabaran ekstra. Bagaimana tidak, mereka menyiapkan benih, menggarap lahan, menanam, dan merawat hingga genap kisaran 120 hari atau empat bulan sampai panen tiba.

Petani benar-benar menikmati tahapan yang mesti dilalui, misalnya, fase ketika tanaman mulai nglilir. Nglilir adalah istilah petani yang menunjukkan bahwa padi mulai tumbuh setelah pemindahan dari pendederan benih ke hamparan sawah.

Usai dipupuk, tanaman padi berusia sebulan tampak ijo royo-royo. Tanaman yang subur dan sehat adalah pertanda panen bakal berlimpah.

Namun, harapan tinggal harapan. Cuaca ekstrem yang menghantam Kebumen pada paruh kedua bulan Januari 2019 memupus asa petani. Ribuan hektare sawah di 12 kecamatan terendam air.

Salah satu desa yang terdampak parah adalah Desa Sugihwaras, Kecamatan Adimulyo, Kebumen. Di desa ini, ratusan hektare tanaman padi terendam banjir. Akibatnya, sebagian besar lahan puso.

Seorang petani, Ahmad Fauzi mengatakan, petani sebenarnya tetap berharap tanaman padinya selamat ketika banjir. Namun apa daya, banjir merendam lebih dari empat hari. Bahkan, di beberapa area, banjir merendam lebih dari sepekan.

"Biasanya kalau cuma tiga atau empat hari terendam, padi masih bisa selamat. Tapi ini sampai seminggu terendam, yang selamat paling hanya 40 persen," dia menerangkan.

Dalam kondisi begitu, petani punya dua pilihan. Membiarkan sawahnya menganggur hingga musim tanam berikutnya atau mencari bibit yang usianya tak terpaut jauh dari tanaman padi di kawasan sekitar.

Sebab, jika harus kembali menebar benih, pertumbuhan dan hasil panen padi tak akan optimal. Petani meyakini, bakal banyak penyakit saat padi ditanam di luar musim. Organisme pengganggu tanaman (OPT) akan mengganas.

Dalam kondisi demikian, para petani hanya memiliki dua pilihan, menanam ulang sawahnya dengan bibit baru, atau menganggurkannya sampai musim tanam berikutnya.

Tak mudah untuk menemukan bibit padi di Kebumen. Pasalnya, musim tanam telah lewat lebih dari sebulan. Apalagi, sebagian besar wilayah bagian bawah Kebumen terdampak banjir lalu.

Sebagian besar petani akhirnya memilih mendatangkan bibit dari kabupaten tetangga, Purworejo. Kebetulan, di Purworejo, sejumlah wilayah baru memasuki masa tanam.

Tiap kali truk pengangkut bibit itu memasuki desa, para petani menyerbu untuk membelinya. Demi tanam padi, mereka rela membeli bibit padi dari Purworejo ini meski dibanderol dengan harga tinggi.

Bibit dijual dengan satuan unting atau ikat. Enam unting bibit padi disebut bawang. Meski mahal, bibit padi tetap laris manis.

"Satu ikat bibit padi dijual seharga Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu," kata Fauzi.

Harga benih itu melonjak nyaris 10 kali lipat dari biasanya. Dalam kondisi normal, bibit padi per ikat tidak lebih dari Rp 1.500.

Harga yang mahal itu membuat tak semua petani mampu membeli bibit. Sebagian lainnya, memilih untuk mempusokan sawahnya hingga musim tanam mendatang.

Kepala pelaksana harian (Lakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen, Eko Widianto mengatakan, banjir Kebumen berdampak pada 21 ribu hektare sawah. Dari jumlah itu, sebanyak 7.400 hektare sawah puso akibat rendaman lebih dari sepekan.


 | Sumber : Liputan6


Baca berita terkait lainnya

BERITA TERBARU:

© Copyright 2019 Berita Kebumen Online | All Right Reserved