=========== Baca Juga :===========


Saat foto bersama diakhir acara LISONG. (Photo: Dok. Pribadi Sabur H R)
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Sebagai seorang peneliti sosial, Teguh Hindarto terbiasa berpikir dengan sistematis dan menuangkannya dalam tulisan-tulisan ilmiah yang mengedepankan data dan obyektivitas, menghindari subyektivitas. Menjadi menarik ketika seorang ilmuwan semacam itu menulis karya sastra, dalam hal ini puisi. 

Apakah puisinya kemudian menjadi saintifik dan mengabaikan ‘rasa’ yang konon cenderung subyektif? Itulah salah satu hal yang coba diungkap dalam apresiasi puisi karya Teguh Hindarto yang digelar oleh Komunitas Lingkar Sastra Gombong (LISONG) dan Komunitas Sastra SMAN Gombong di Roemah Martha Tilaar Sabtu (17/11) kemarin.

Dalam acara itu. setidaknya ada 15 puisi karya beliau yang dibawakan secara bergantian oleh para pegiat sastra. Kebanyakan puisinya memang terasa ‘berat’ dan banyak menggunakan kalimat-kalimat panjang. Tak heran salah satu pegiat sastra, Untung Karnanto, menjulukinya Penyair Ilmiah. Namun kali ini ruang bagi interpretasi oleh para pembawanya dibuka luas. 

Ini misalkan muncul ketika puisi ‘pengundang hujan’ yang berjudul “Mantra Tirta Tiba” dibawakan sebagai sebuah lagu oleh Tetuko Wahyu Sayekti. Roh yang keluar dari puisi itu menjadi terasa sangat kuat justru ketika diolah lewat musikalisasi puisi oleh Tetuko.

Teguh Hindarto sendiri mengakui bahwa dia cukup terkejut namun sangat mengapresiasi cara LISONG membedah dan mengolah karya-karyanya. Puisi-puisi yang ditulisnya ternyata memiliki wujud yang lebih kaya setelah dibawakan di atas panggung.

“Saya bahkan pangling dengan karya-karya saya sendiri setelah dibawakan dengan begitu apik oleh para sastrawan ini,” aku pemilik blog sejarah history and legacy ini.

Penyematan gelar penyair ilmiah lisong kepada Teguh Hindarto. (dok Pribadi Teguh Hindarto)
Salah satu pegiat sastra dari Banyumas yang hadir, Hadi Suroso, mengungkapkan bahwa puisi-puisi Teguh Hindarto sangat jeli menangkap berbagai fenomena sosial dalam masyarakat. 

“Memang kebanyakan puisi Pak Teguh bermuara pada soal moral dan budi pekerti. Ini tidak bisa dihindari karena sebagai seorang pendeta pasti beliau setiap hari bergelut dengan masalah etika dan moral,” ujar penyair yang karyanya sudah meraih berbagai penghargaan ini.

Patut dicatat keberhasilan Koordinator LISONG, Sabur Herdian Raamin memadukan pegiat sastra lintas usia. Para penyair senior seperti Agus Mursalin, Untung Karnanto, Carolin Atin Soel, Anom Triwahyudi, Haryadi dan Trimo Raharjo berbagi panggung dengan Disela, Ghadis Tiranita, Nanda Lintang Putri dan teman-temannya, remaja belasan tahun yang sedang belajar mencintai sastra. Kesempatan seperti ini kiranya akan memperluas cakrawala sastra para remaja ini yang pada gilirannya akan meningkatkan apresiasi masyarakat luas pada karya sastra.

Sabur menambahkan bahwa pagelaran ini merupakan helatan rutin yang diselenggarakan oleh LISONG. Untuk bulan Desember direncanakan akan diadakan peluncuran buku kumpulan puisi karya empat penulis muda.

“Kami mencoba membuat agenda reguler bulanan. Setidaknya sampai Januari kami sudah menyusun agenda kegiatan. Saya berharap konsistensi LISONG bisa ikut berperan dalam mengembangkan dunia sastra di Kebumen, apalagi saat ini rangkaian kegiatan yang kami adakan sudah menjadi perhatian para pegiat sastra di kota-kota lain,” demikian Sabur. 


Editor : Yogi P | 


Post a Comment

Powered by Blogger.