=========== Baca Juga :===========


Penampakan buaya Lukulo pada dasarian kedua November 2018 di Rantewringin, Buluspesantren, Kebumen. (Foto: Liputan6.com/Mulyadi untuk Muhamad Ridlo)
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Sejak tahun lalu, masyarakat Kebumen, terutama yang tinggal di sekitar Sungai Lukulo diresahkan dengan munculnya kawanan buaya muara. Bagaimana pun, buaya adalah hewan liar dan ganas yang sewaktu-waktu bisa mencelakai manusia.

Apalagi, aktivitas di Sungai Lukulo terhitung padat. Penambangan pasir tradisional berlangsung sepanjang tahun. Masyarakat pun, di kala waktu tertentu kerap memanfaatkan alirannya untuk MCK saat musim kemarau.

Layaknya anak-anak di pinggiran sungai, bocah di sekitar aliran Sungai Lukulo kerap bermain dan berenang. Namun, semenjak penampakan buaya pada 2017 lalu, mereka tak lagi leluasa mandi di kali, kebiasaan yang turun-temurun dilakukan sejak nenek moyang itu.

Buaya yang tampak terakhir kali pekan lalu di Rantewringin Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, ini pun cukup besar. Ukurannya diperkirakan antara 3-4 meter. Dengan ukuran sebegitu besar, sepertinya manusia bukan lah lawan sepadan bagi hewan ganas ini di dalam air.

"Ya khawatir juga. Kami sih harapannya kalau bisa buayanya dievakuasi. Bukan dibunuh, pindah ke kebun binatang atau ke penangkaran," kata Mulyadi, seorang warga Ranewringin, pertengahan November 2018 lalu.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah pun sebenarnya sudah berupaya mengevakuasi buaya ini. Sayangnya, pemasangan perangkap pada 2017 lalu tak menuai hasil.

Buaya ini seolah tahu bahwa ia akan ditangkap. Pakan utuh, buaya pun raib. Pada kemarau panjang 2018 kemarin, bahkan tak ada satu pun buaya yang menampakkan diri.

Menanggapi permintaan warga ini, Mitra Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Fatah Arif Suyanto mengatakan ia sudah berkoordinasi untuk berupaya mengevakuasi buaya tersebut secepatnya. Pasalnya, buaya itu kerap tampak di wilayah sungai di kawasan padat penduduk.

Rencananya, jika tertangkap buaya itu akan dievakuasi dan dititipkan ke penangkaran buaya miliknya di Dawuhan Kulon Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas.

Pawang buaya ini menerangkan, saat ini ia tengah membuat dua jebakan untuk menangkap buaya. Satu dibuat dengan sistem jebakan kolong pengait, sedangkan satunya lagi menggunakan jebakan pintu.


| Sumber : Liputan6


Post a Comment

Powered by Blogger.