=========== Baca Juga :===========


Santan kelapa kental yang diproses menjadi minyak di Jogopaten Bulus pesantren Kebumen. Foto: Dasih/KRJogja
BULUSPESANTREN (www.beritakebumen.info) - Segelintir perajin minyak kelapa di sejumlah desa di Kebumen kini masih berupaya bertahan untuk terus berproduksi. Namun minyak hasil produksi mereka bukanlah dijual di pasar konvensional, melainkan untuk memenuhi pesanan para pelaku industri farmasi dan makanan di beberapa daerah.

" Kami bertahan membuat minyak dari kelapa karena memang ada pesanankhusus dari pemilik usaha makanan olahan dan farmasi di beberapa daerah seperti Yogyakarta dan Purwokerto," ujar perajin minyak kelapa di Desa Jogopaten Kecamatan Bulus pesantren Kebumen, Tumuji, Minggu (30/09/2018).

Menurut Tumuji kini ia satu-satunya perajin minyak kelapa di Jogopaten. Padahal sekitar 10 tahun lalu di Jogopaten pernah ada 29 perajin yang setiap harinya aktif memproduksi minyak kelapa secara tradisional, yaitu melalui proses pemasakan santan kental selama 3 jam.

" Sejak kalah bersaing dengan minyak kelapa sawit, lama kelamaan para perajin minyak kelapa di desa kami berhenti berproduksi. Saya bisa bertahan pun karena memang ada pengepul yang rutin memesan untuk dipasok ke beberapa usaha farmasi dan makanan," ujar Tumuji yang per hari rutin memproduksi 25 kilogram minyak dari 300 butir kelapa tua dengan harga jual minyak Rp 9,5 ribu/kilogram di tingkat perajin.

Selain Tumuji di Jogopaten, pembuatan minyak kelapa secara tradisional juga terdapat di Desa Pagedangan Kecamatan Ambal dan Desa/Kecamatan Petanahan Kebumen. Alasan mereka bisa bertahan berproduksi hingga kini sama dengan Tumuji, yaitu karena masih dibutuhkan untuk industri farmasi dan makanan olahan di sejumlah daerah. (Dwi)


 Sumber : KRJogja.com


Post a Comment

Powered by Blogger.