=========== Baca Juga :===========


Wahyu Kurniawan, petani jamur Desa Kalitengah Gombong Kebumen. (Foto : Dasih/krjogja.com)
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Daya serap pasar lokal di Kebumen terhadap jamur segar hingga tahun 2018 masih terhitung rendah, rata-rata hanya 500 kilogram/hari.Dengan demikian saat panenan petani jamur Kebumen melimpah dan melebihi 500 kilogram dalam seharinya, maka petani harus bisa memasarkannya ke luar Kebumen.

"Agar bisa eksis maka petani jamur di Kebumen harus ulet mencari pasar hingga ke luar Kebumen. Kami pun harus bisa membuat makanan olahan dari jamur seperti keripik jamur," ujar Koordinator Wilayah (Korwil) Banyumas dan Kedu Paguyuban Jamur Nusantara (PJN), Wahyu Kurniawan, di Pesta Wirausaha Kabupaten Kebumen 2018, Selasa (02/10/2018).

Menurut Wahyu, petani jamur asal Desa Kalitengah Kecamatan Gombong Kebumen, rendahnya daya serap pasar Kebumen terhadap jamur segar berdampak masih rendahnya animo warga Kebumen untuk menekuni usaha budidaya jamur.

"Saat ini petani jamur Kebumen yang rutin berproduksi, masing-masing dengan 10 ribu kantung media, baru 4 petani di Gombong dan Adimulyo. Sedangkan petani skala kecil tersebar di beberapa kecamatan lainnya. Untuk pemasaran kami bahu membahu. Kebetulan saya sudah punya jaringan pemasaran di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat," ujar Wahyu yang sudah 4 tahun lamanya menekuni usaha budidaya jamur tiram putih dan jamur kuping.

Adapun harga jamur segar saat ini Rp 20 ribu/kilogram untuk jamur kuping dan Rp 15 ribu/kilogram untuk jamur tiram putih. Tingginya biaya produksi menyebabkan harga jual belum bisa ditekan lebih rendah lagi.

"Selain soal harga jual, tantangan petani jamur saat ini adalah meyakinkan masyarakat tentang keunggulan nilai gizi jamur. Secaranasional keterserapan jamur di Indonesia masih rendah, 003 kilogram/kapita/tahun, jauh lebih rendah dibanding di tingkat ASEAN yang mencapai 3 kilogram/kapita/tahun," ujar Wahyu. (Dwi)


Sumber : KRJogja


Post a Comment

Powered by Blogger.