Hampir 18 Tahun sudah warga Desa Kedungtawon merasakan Banjir dimusim Kemarau
Bapak Qudrat Wibowo sedang berjalan menunjukan Rumah warga yang tergenang. (Foto. Yogi Permana)
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Kurang lebih sekitar 1 hektar persawahan terlihat digenangi air, dan 12 rumah terkena imbasnya dari meluapnya aliran air dari bendungan pejengkolan. Sama sekali tidak terlihat adanya padi yang mulai menguning, seperti halnya daerah di selatannya. 




Bukan hanya sawah, Kandang ayam, kandang sapi, bahkan ada 3 rumah di Desa Kedungtawon, Kuwarisan, Kutowinangun (2/7) yang ikut tergenang sampai air masuk ke dalam rumah. Karena ketinggian air mencapai 50 cm.

Salah satu warga yang rumahnya kemasukan air adalah Bapak Abdul Latif. Beliau sangat mengharapkan segera ada tindakan nyata dari Pemerintah. Karena menurutnya, akibat banjir rutinan tersebut, begitu sangat merugikan. 

"Kalau seperti ini aktifitas sehari-hari jadi terhambat, air masuk ke dalam rumah sampai ke kamar juga. Masa tiap tahun dari tahun 2000, selalu merasakan seperti ini," tutur Bapak Abdul Latif.

Luapan air ini terjadi sejak Hari Lebaran kurang 2 hari, dan tahun ini memang lebih besar, biasanya cepat surut dan tidak sampai masuk ke rumah, menurut Bapak Qudrat WIbowo yang rumahnya berada di tepi sawah. 

"Beberapa sawah jelas gagal panen, karena keponakan saya kemaren sudah mengeluarkan modal yang tidak sedikit untuk menanam padi, tapi sawah seluas 250 ubin malah kebanjiran, ya sudah mau gimana lagi", ungkap Pak Qudrat kepada Berita Kebumen.

Warga sudah bingung mau lapor kepada siapa lagi, karena seperti tidak ditanggapi.

Jika melihat dari kondisi geografisnya, Desa Kedungtawon yang mengalami banjir ini, lokasinya seperti cekungan, dimana selatan desa adalah jalan raya yang lebih tinggi, dan sebelah utaranya merupakan rel kereta api yang otomatis lebih tinggi juga.

Apalagi desa tersebut juga berada ditengah-tengah, menjadi pemberhentian aliran air dari bendungan Pejengkolan. Selain itu Efek dari pembangunan rel ganda juga menyumbang dampak banjir tersebut.

"Wilayah tersebut sudah diambil oleh pemerintah pusat, beberapa kali dari Desa juga sudah mengirimkan surat langsung ke Bupati, sudah pernah juga masuk selamat pagi Bupati sekitar 3 tahunan yang lalu. Katanya sih akan ditindaklanjuti", tutur Pak Edy Sumono (55) selaku Kades Kedungtawon.

Beliau melanjutkan, jika banjir tersebut terjadi karena faktor kebocoran tanggul, dan kurang lancarnya saluran yang ke arah barat (endapan di sungai sudah semakin tinggi). Menurut beliau, kalau saluran irigasi diberi lapisan cor-coran atau besi seperti saluran yang ada di Mrinen sampai dengan Gentan, mungkin bisa menjadi sebuah solusi. Tapi itu sudah menjadi wewenang pemerintah pusat.



Reporter : Yogi  | Editor : - | Sumber : -


Post a Comment

Powered by Blogger.