=========== Baca Juga :===========



Muhammad Basir memperlihatkan Sangkar Burung buatannya. (Foto: Yogi Permana)
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Trend berwirausaha memang saat ini sedang mengalami peningkatan. Sekolah-sekolah Menengah pun sudah memasukan Mata Pelajaran Kewirausahaan, agar nantinya para lulusannya bisa memikirkan prospek dalam dunia wirausaha. Sehingga mereka tak harus bekerja untuk perusahaan luar. Tapi malah membuat perusahaan sendiri nantinya. 

Di Kebumen sendiri, banyak warganya yang memilih untuk berwirausaha, dan nyatanya itu bisa untuk menghidupi keluarganya. Seperti keputusan yang diambil oleh Muhammad Basir (34), memilih untuk menekuni dunia sangkar burung.

Pada Minggu (28/1) di kediamannya yang beralamatkan di Dukuh Rejosari kecamatan Ambal, ia menceritakan awal mula memilih untuk menekuni bisnis sangkar burung. Sekitar 6 tahun yang lalu, yakni pada tahun 2011, ia memutuskan menjadi pengrajin Sangkar Burung. 

Sebulan setelah menikah, ia mulai belajar membuat sangkar burung yang waktu itu hanya bermodal uang Rp 50.000. 

"Waktu itu saya cuma punya modal 50.000, bahan-bahan untuk membuat sangkar burung saya ambil dari kayu yang bekas dipakai acara sambatan saudara", ceritanya sembari memperlihatkan sangkar burung buatannya.

Ia melanjutkan, jika diawal-awal, mampu membuat sebanyak 28 sangkar burung yang dikerjakannya siang dan malam. Saat itu masih ada pengepul yang menampung sangkar burung buatannya. Berapapun jumlah dalam seminggu, akan ditampung dan langsung dibayar cash. Namun sayang, tak berapa lama, pengepul tersebut mengalami kebangkrutan. 

"Pengepulnya malah bangkrut, karena tertipu. Penyebabnya karena dia kirim sangkar burung dalam jumlah besar tapi tidak dibayar", ungkap Muhammad Basir.

Meskipun tanpa pengepul, ia tetep semangat membuat Sangkar Burung dan ia jual sendiri sampai ada pengepul lain yang kemudian datang untuk menampung hingga sampai saat ini. Pengepul tidak menargetkan harus membuat sangkar burung dalam jumlah yang banyak, setiap minggunya akan diambil berapapun jumlah sangkar burung yang berhasil dibuat. Saat ini, dalam seminggu Muhammad Basyir membuat  rata-rata sebanyak 16 sangkar burung, dan dijual dengan harga kisaran Rp 16.000 - Rp 30.000.

Sampai saat ini, baru ada satu orang yang membantu dalam bidang pemasarannya. Dari satu orang tersebut saja terkadang masih kewalahan. Ia juga sudah pernah beberapa kali mengajak warga lainnya untuk kerja sama dalam produksinya. Tapi sayang, karena butuh telaten dan konsisten, banyak yang bosan dan berhenti.

"Sudah pernah saya ajak yang lainnya untuk ikut membantu, ya kerjasama lah dalam produksinya. Tapi tidak lama mereka bosan dan berhenti membuat sangkar burung", ungkap Basyir pada Beritakebumen.info.

Padahal permintaan sangkar burung saat ini sedang meningkat, karena banyak dari masyarakat yang mulai menggandrungi hobi memelihara burung.

Ia menambahkan, sampai saat ini masih mengajak warga masyarakat untuk bekerja sama dalam hal produksi Sangkar Burung. Selain itu, ia juga mulai mengajukan kerjasama dengan toko-toko yang menjual Sangkar Burung, untuk memperbanyak penjualannya.


Reporter : Yogi | Editor : Rahmat | 

Post a Comment

Powered by Blogger.