04 April 2013

Desa Kedunggong, Desa Terpencil, Cocok Dikembangkan Untuk Agrowisata

Desa Kedunggong, Desa Terpencil, Cocok Dikembangkan Untuk Agrowisata

Jalan menuju Desa Kedunggong Kec. Sadang dengan pemandangan alam indah disekitarnya. (Foto: Aisyah)
SADANG (www.beritakebumen.info) - Banyaknya potensi yang dimiliki Desa Kedunggong, Kecamatan Sadang, Kebumen mulai disadari oleh masyarakat maupun pemerintah desa setempat. Hanya butuh dukungan dari pemerintah kecamatan dan kabupaten agar potensi tersebut dapat digali dan dikembangkan.

Melihat buah-buahan yang melimpah, suasana alam yang nyaman, udara segar dengan pemandangan yang unik mengunjungi desa ini memberikan hiburan tersendiri. Sehingga cukup layak jika Desa Kedunggong, dikembangkan untuk agrobisnis dan agrowisata.

Area tanaman buah terus berkembang Mulyadi (50) warga Dusun Majasanga, misalnya yang awalnya hanya menanam 1.000 pohon salak, saat ini telah berkembang menjadi 3.000 pohon. Sejumlah warga lain juga tertarik dan banyak yang sudah membudidayakan salak pondoh super lumut tersebut.

"Selama ini, saya mengandalkan perekonomian keluarga dari hasil salak yang saya tanam," imbuh kakek tiga cucu tersebut seraya menyebutkan salak asal Desa Kedunggong rasanya manis tidak kalah dengan salak asal Sleman.

Selain salak, buah durian juga telah dikembangkan di desa ini. Seperti dilakukan oleh Slamet (33) warga Dusun Dengkol yang menanam sebanyak 400 pohon durian. Jika selama ini, dia hanya mengandalkan durian lokal warisan leluhur, durian jenis montong maupun sitokong telah banyak dibudidayakan.

"Untuk durian jenis montong, sekarang sudah berumur tiga tahun," ujarnya.

Merujuk data potensi desa, saat ini total luas pohon salak di desa itu mencapai 3,7 hektare.

Sedangkan total luas tanam pohon durian telah mencapai 4,7 hektare, mangga 1,8 hektare, manggis (0,3 hektare), dan duku (0,5 hektare) kokosan (0,4 hektare) nanas (0,6 hektare) dan pisang seluas 3,8 hektare.

Ternak Kambing


Seiring dengan budidaya buah-buahan, Slamet juga membudidayakan ternak kambing jawa randu dan peranakan etawa. Sejak dua bulan lalu, dia mencoba membudidayakan sebanyak 15 ekor. Hal itu setelah dia pulang mengikuti studi banding ke Kecamatan Turi, Sleman.

"Setelah pulang saya langsung membeli kambing untuk dikembangkan," imbuhnya.

Kepala Desa Kedunggong Kasmini didampingi Sekretaris Desa Kino Edy berharap ada perhatian khusus dari Pemkab Kebumen terhadap desa terpencil seperti Kedunggong. Salah satunya adalah peningkatan infrastruktur berupa perbaikan jalan. (Supriyanto-91/SM)


=============================================================
KOMENTAR PEMBACA | KOMENTAR FACEBOOKER

=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP

Baca berita terkait lainnya

BERITA TERBARU:

© Copyright 2019 Berita Kebumen Online | All Right Reserved