Jelang Pemilu Ini, Makam Mbah Lancing Semakin Ramai Didatangi oleh Para Caleg
Makam Mbah Lancing di Kebumen.Makam Mbah Lancing di Kebumen. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Makam Mbah Lancing di Kebumen, Jawa Tengah yang sangat dikeramatkan oleh warga, banyak didatangi peziarah tiap harinya. Tak mau ketinggalan, para caleg pun berdatangan untuk meminta doa restu agar terpilih menjadi anggota dewan pada Pemilu 2019 nanti.

Makam yang terletak di Dukuh Kauman, Desa Mirit, Kecamatan Mirit ini setiap hari selalu ramai dikunjungi peziarah. Tidak hanya warga Kebumen dan sekitarnya, namun mereka yang datang juga berasal dari Jakarta bahkan luar Jawa.

"Nggih kathah (ya banyak) yang datang dari Kebumen, Purworejo, Cilacap, Yogya, dan sekitarnya ada yang dari Jakarta dan Sumatera juga," ucap juru kunci makam, Ahmad Kamdi (80) ketika ditemui detikcom, Jumat (15/3/2019).

Karena kharismanya sebagai seorang ulama bahkan warga menyebutnya sebagai wali yang berjasa menyebarkan agama Islam di daerah Kebumen dan sekitarnya, hingga kini banyak peziarah yang datang untuk mendoakan Kiai Lancing sekaligus meminta suatu hajat.

Banyak peziarah yang percaya jika permintaan mereka akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa melalui perantara Mbah Lancing. Mulai dari warga biasa, caleg, pejabat bahkan calon presiden pun datang ke tempat tersebut untuk ngalap berkah.

"Kalau anak sekolah mintanya biar lulus ujian, ada yang untuk berdagang, naik pangkat atau jabatan dan para caleg juga banyak yang ke sini minta biar terpilih besok pas pemilu. Dulu sebelum jadi presiden, Pak SBY juga datang ke sini. Calon kades, bupati juga banyak yang ke sini," lanjut Ahmad Kamdi.

Jelang pemilu ini, makam mbah Lancing semakin ramai didatangi oleh para caleg. Biasanya mereka datang pada malam hari terutama pada malam Jumat.

"Tadi malam saya nemani mereka (caleg) sampai subuh. Biasanya para caleg kalau datang memang malam, kadang tengah malam. Calegnya ada yang dari Kebumen sini, Purworejo ada yang dari Jakarta juga Lampung," imbuhnya.

Sebagai ucapan terima kasih karena doa dan keinginannya tercapai, biasanya peziarah akan kembali lagi ke makam tersebut dan memberi kain batik yang diletakkan di atas pusara Mbah Lancing. Sampai saat ini sudah tidak terhitung lagi berapa lembar kain batik yang tertumpuk hingga setebal lebih dari satu meter itu.

Kain batik yang diberikan sebagai hadiah tersebut bukanlah sembarang kain batik yang bisa dibeli di pasar atau toko, melainkan batik khusus yang harus dibuat langsung oleh warga yang telah ditunjuk. Batik harus berwarna dominan hitam cokelat dan bermotif contong yang merupakan kesukaan Mbah Lancing.

Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan makam Mbah Lancing itu ada, namun diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun silam. Mbah Lancing yang memiliki nama asli Kiai Baji sendiri menurut cerita merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V.

Jelang Pemilu Ini, Makam Mbah Lancing Semakin Ramai Didatangi oleh Para Caleg
Makam Mbah Lancing di Kebumen.Makam Mbah Lancing di Kebumen. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
"Mbah Lancing itu merupakan nama panggilan dari warga sekitar pada zaman dahulu karena Mbah Baji senang memakai kain batik untuk bebedan atau celana yang disebut lancing saat kemana pun pergi," jelasnya.

Makam Mbah Lancing berdampingan dengan makam ayahnya Ketidjojo. Tepat di depan makam berdiri bangunan bergaya joglo dengan tiang dan dinding kayu berukir yang sering digunakan para peziarah untuk menggelar doa bersama.


Sumber : Detik.com


Seorang Kakek dari Desa SIdoharum Meninggal Dunia Karena Puntung Rokok
Seorang kakek di Kebumen ditemukan meninggal di kasur yang terbakar akibat putung rokok. (Foto: Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Kecil dan memberikan kenikmatan, begitulah yang dirasakan sebagian orang ketika menghisap Rokok. Padahal, Rokok bisa menyebabkan kematian. Kurang lebih seperti itulah kesimpulan tiap kali membaca peringatan yang tertera dalam setiap bungkus rokok yang beredar di Indonesia.

Kalimat peringatan itu kebanyakan memang tak langsung menyatakan bahwa rokok mematikan. Namun, kesimpulan akhirnya adalah bahwa rokok memang membahayakan nyawa perokok maupun orang yang berada di sekelilingnya.

Sudah dijelaskan juga, bahwa merokok bisa meningkatkan risiko kanker paru-paru, kanker tenggorokan, kanker mulut, meningkatkan serangan jantung, hipertensi, hingga keguguran bagi perempuan hamil.

Namun, peristiwa di Desa Sidoarum Kecamatan Sempor, Kebumen ini memang berbeda. Rokok benar-benar mematikan dalam arti langsung.

Minggu pagi, 17 Maret 2019, sekitar pukul 07.30 WIB, Khomasatun (37) bergegas mengantar sarapan untuk pamannya, Sardi (65). Sardi adalah kakek yang tinggal sebatang kara usai istrinya meninggal dunia.

Dari pernikahannya itu, Sardi tak memiliki anak. Makanya, sehari-hari, Sardi amat bergantung kepada Khomsatun, sang keponakan yang tinggal berdekatan di Desa Sidoharum Kecamatan Sempor, Kebumen.

Begitu membuka pintu, Khomsatun mencium bau daging gosong. Ia terperanjat kaget ketika mengetahui bau gosong itu berasal dari tubuh pamannya yang terbakar.

Khomsatun pun histeris melihat pemandangan yang cukup memilukan tersebut. Hal tersebut membuat warga sekitarnya menjadi geger. 

Tak lama berselang lama, polisi di bawah pimpinan langsung Kapolsek Sempor, IPTU Sugito mendatangi lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari hasil penyelidikan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.

Diperoleh keterangan pula, korban sebelumnya pernah mengalami kejadian serupa. Hanya saat itu, korban berhasil menyelamatkan diri dengan berjalan."Korban menderita sakit diabetes sehingga sehari-hari tak bisa beraktivitas seperti yang lain. Selama ini korban tinggal sendiri karena tidak dikaruniai anak dari hasil pernikahannya dengan almarhumah istrinya. Untuk kebutuhan sehari-hari, korban mengandalkan bantuan keponakan (Khomsyatun)," imbuh AKP Sugito.



Sumber : liputan6.com dan kebumenekspres.com | Editor : BK02/ Yogi 
Powered by Blogger.