Kiri: Lalu Muhammad Zohri, Kanan: Adi Ramli Sidiq. Keduanya atlet lari 100 meter. (Foto: facebook/public)
MALAYSIA (www.beritakebumen.info) - Atlit lari asal Kebumen Adi Ramli Sidiq berhasil meraih medali emas lari 100 meter pada kejuaraan Asean School Games (ASG) 2018 di Stadion Mini Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (21/7/2018).




Meski dalam kondisi cedera, atlet PPLP Jawa Tengah ini berhasil masuk finis dengan catatan waktu 10,85 detik. Disusul atlet tuan rumah Malaysia, Muhammad Aiwdel bin Sa'adon dengan catatan waktu 10,88 detik dan posisi tiga direbut atlet Indonesia lainnya, Muhammad Fahrurrozi dengan waktu 10,97 detik.

Adi mengaku termotivasi oleh Lalu Muhammad Zohri, sang juara dunia lari 100 meter putra di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia beberapa waktu lalu.

"Ya. Prestasi Zohri memang menjadi salah satu motivasi saya untuk meraih hasil terbaik di sini," kata Adi Ramli dengan tersenyum.

Catatan waktu Adi Ramli di final sebenarnya mengalami penurunan dibandingkan saat semifinal yang menembus angka 10,82 detik. Atlet asal Kebumen itu mengaku kondisi cedera sangat berpengaruh dan dirinya tidak mau memaksakan diri karena bakal berdampak buruk.

"Engkel kiri saya masih bermasalah. Ini saya dapat saat latihan di pelatnas. Saat itu kurang latihan endurance," kata atlet berusia 17 tahun ini.

Kedepan, kata dia, dirinya akan terus menempa diri mengingat rekannya di pelatnas sudah mampu menjadi juara dunia U-20 yaitu Lalu Muhammad Zohri yang catatan waktunya mampu menembus angka 10,18 detik.




"Saya kurang puas dengan hasil di sini karena belum mampu memperbaiki waktu terbaik saya. Waktu terbaik saya 10,71 detik," kata Adi Ramli usai perlombaan.

Setelah ASG 2018, Adi Ramli mengaku akan kembali ke pelatnas untuk mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan-kejuaraan internasional sesuai dengan program Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI).

Pada ASG Malaysia, Adi Ramli merupakan emas ketiga untuk kontingen Indonesia. Emas pertama direbut atlet lompat jauh Ahmad Ambali Sukur, emas kedua direbut Jeany Nuraini Amelia Agreta dari nomor 100 meter putri. Sedangkan emas keempat dari 800 meter putra, Wempi Pelamonia.

Sementara itu manajer tim atletik Indonesia, Suryo Agung Wibowo mengaku dengan hasil empat emas di hari pertama membuat target lima emas nyaris terpenuhi. Masih ada tiga hari kedepan untuk memenuhi target.

"Jika nomor 400 meter gawang putra emas, maka target terpenuhi. Namun Raza Caktiaji hanya mampu meraih perak. Selisih waktunya tipis dengan atlet Malaysia. Besok kita penuhi dari nomor lompat galah putra dan putri," katanya saat dikonfirmasi.


Editor : BK/Mat | Sumber : Antaranews.com


Pasangan tak resmi yang terjaring razia pekat diberikan pembinaan di Kantor Satpol PP Kota Magelang. (IST/jawapos.com)
MAGELANG (www.beritakebumen.info) - Pengamen asal Kebumen, Asbachul Junadi (19) terpaksa harus berurusan dengan Polres Magelang karena kedapatan membawa cek palsu senilai Rp 3,5 M.

Junaidi terciduk di persimpangan Artos saat razia penyakit masyarakat (Pekat) oleh tim gabungan dari Satpol PP Kota Magelang, Polres Magelang Kota, Kodim 0705, dan Sub Denpom Magelang, Kamis (19/7/2018).

Penelusuran melalui Jawapos.com petugas sempat tercengang saat mendapati Junaidi membawa cek palsu senilai 3,5 miliar atas nama bank swasta. Akibat kelakuannya, Satpol PP lantas menyerahkan yang bersangkutan ke Polres MAgelang Kota untuk penyelidikan lebih lanjut.

“Pengamen ini kami temukan dalam perjalanan razia pekat, dan langsung kami serahkan ke Polres Magelang Kota guna penyelidikan lebih lanjut,” kata Kepala Satpol PP Kota Magelang, Singgih Indri Pranggana.






Selain itu, tim gabungan juga menyisir rumah kos yang ada di Tidar Campur. Dua pasangan tak resmi berhasil diamankan. Masing-masing berinisial, MR, 27, warga Purbalingga yang sedang berduaan dengan ES, 19, warga Tempuran, Kabupaten Magelang. Mereka merupakan pegawai swasta. Di tempat lain, kembali ditemukan pasangan ER, 19, asal Bandung dan IS, 19, asal Pasuruan. Keduanya masih berstatus sebagai mahasiswa.

Muda-mudi yang ketahuan berduaan di kamar kos tersebut diminta membuat surat pernyataan. Intinya, berjanji untuk tidak mengulangi perbuataannya lagi. Kemudian, surat pernyataan tersebut dibaca dengan suara keras. “Jika kami menggelar razia dan menemukan mereka lagi, maka perlakuannya beda. Kemungkinan bisa proses tipiring,” tandasnya.



Reporter : (sm/put/ton/ap/JPR) | Editor : Rahmat | Sumber : jawapos.com


Powered by Blogger.