Melalui Kok Badminton, Sadio membuka Peluang Kerja Masyarakat
Ilustrasi pembuatan kok. (Istimewa)
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Dengan peralatan yang sederhana, Sadio (58), earga DUkuh Jeruk gulung, Desa Jatiluruh, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, membuat shuttlecock atau kok badminton. Bahan baku dari bulu unggas, terutama ayam dan mentok atau entok, yang ia peroleh masih dari Kebumen.

"Tidak semua bulu bisa dopakai untuk membuat kok, hanya bulu bagian sayap saja yang dipakai. itupun hanya tiga sampai empat lebar bulu sayap yang digunakan utuk membuat kok", jelas sadio, Minggu (8/4) dilansir dari KRJogja.

Bahan baku lain  berupa gabus untuk bagian kepala koknya. Kebutuhan gabus dipasok dari Tegal.

"Gabus kepala kok ada yang impor, ada yang buatan lokal. Baik yang impor maupun lokal, semua dipasok dari Tegal," ujar Sadio yang menjual kok dengan gabus Impor, lebih mahal dibanding dengan gabus lokal.

Proses pembuatannya yang tidak mengandalkan mesin otomatis, mampu membuka peluang kerja bagi warga sekitar. 

Seperti menjahit atau pengeleman, melibatkan kaun perempuan di desanya. Pekerjaan itu dilakukan di rumah mereka sendiri. Selain itu, menjalin mitra usaha dengan pengrajin yang lainnya.

Dengan produksi rata-rata 300 lusin setiap bulan, Sadio masih kerap kewalahan melayani pesanan. Pesanan akan berkurang jika musim penghujan. 

Musim hujan juga membuat Sadio mengalami kesulitan produksi. Pasalnya, dalam pengolahan bulu unggas hingga siap dibuat kok, masih mengandalkan terik sinar matahari.

Sebelum dipasarkan, terlebih dahulu dilakukan pengecekan oleh Sadio sendiri. Selain bentuk dan ukuran, hal terpenting adalah berat kok yang harus standar. 

"Sebelum dikemas, satu persatu kok ditimbang. Setiap kok beratnya harus pada kisaran 4,9 gram," ungkap Sadio yang sudah menekuni usaha pembuatan kok sejak 1983.


Reporter : Suk | Sumber : http://krjogja.com

Post a Comment

Powered by Blogger.