Serabi Jawa di objek wisata Kalibuntu. (Foto: kebumen.sorot.co)
PETANAHAN - Cita rasa manis, legit nan gurih serta aroma khas Serabi Jawa yang sedap, tetap dipertahankan oleh nenek Tursiyah , seorang pedagang serabi di objek wisata Kalibuntu, Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan. Sejumlah wisatawan yang berkunjung di objek wisata ini dibuatnya kikuk dan keroncongan lantaran semerbak aroma serabi yang dijajakan nenek 67 tahun di sebuah gubug sederhana.

Nenek Tursiyah yang juga merupakan warga desa setempat sudah mulai menjajakkan dagangannya sejak dini hari, sekira pukul 05.30 WIB di setiap akhir pekan. Dua papan kayu sebagai etalase dagangannya dan dengan daun pisang kering (klaras) sebagai alas pengganti piring tempat meletakkan serabi menambah kesan natural menu ini. Penyajian yang sederhana ini menjadikan serabi racikannya terjaga keorisinilannya.

Tak hanya itu, orisinilitas menu makanan yang berbahan dasar tepung beras dan parutan kelapa itu dimasak menggunakan tungku kayu bakar dengan alat gerabah yang terbuat dari tanah liat. Selain itu, alat-alat tradisional lain seperti manggar kelapa yang dimodifikasi sedemikian rupa layaknya kuas cat dan penjepit yang terbuat dari bambu juga tampak lihai dimainkan oleh kedua tangan tua nenek Tursiyah saat meracik serabi Jawa tersebut.

Saat disambangi sorot.co, nenek Tursiyah mengaku menjual serabi tersebut dengan harga Rp 1000 per biji. Dalam waktu satu hari setiap jualan, dirinya rata-rata mencetak sekitar 150-200 biji dengan penghasilan kotor sekitar Rp. 150-200 ribu.

Kalau lagi rame pengunjung ya bagus buat jualan, kalau lagi sepi ya sepi juga pembelinya,” ucap Tursiyah, dijumpai di lapak gubuknya, Minggu (08/04/2018).




Tursiyah menuturkan, dirinya sengaja menggunakan alat-alat tradisional tersebut untuk menjaga orisinilitas citarasa serabi jawa yang khas. Selain itu, para pelangganya juga meminta dirinya untuk tidak menggunakan alat-alat modern, seperti kompor gas dan alat-alat lainnya.

Katanya sih kalau masaknya menggunakan kompor gas rasanya jadi beda. Kalau alasnya menggunakan piring, tidak menggunakan daun pisang kering rasanya juga berubah. Kebetulan, saya jadi tidak perlu repot-repot membawa perlengkapan,” ujarnya.

Siti Khasanah, salah satu wisatawan setempat mengaku, dirinya bisa dipastikan selalu mampir ke gubug nenek Tutsiyah saat berkunjung ke obyek wisata ini untuk menyantap serabi.

"Kalau kesini tidak makan serabi rasanya kaya ada yang kurang. Biasanya saya membungkus serabi untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh yang di rumah,” katanya.


| Sumber : Sorot Kebumen

Post a Comment

Powered by Blogger.