Pohon besar tumbuh menumpang di bebatuan di Dusun Watu Tumpang, Desa Karangsambung, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen. (Tribun JAteng/ Khoirul Muzakki)
KARANGSAMBUNG (www.beritakebumen.info) - Sebuah pohon Mangir berdiri tegak di tengah pemukiman Dusun Watu Tumpang Desa Karangsambung, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen.

Tiada pembeda pohon itu dengan pohon lain pada umumnya, kecuali ukurannya yang lebih besar, juga usianya yang sangat tua, diperkirakan ratusan tahun.

Buahnya tak enak dimakan. Kayu pohon itu juga tak termanfaatkan. Ranting-ranting tuanya sering terhempas angin hingga jatuh mengotori pekarangan warga.

Tetapi entah kenapa, pohon ini tak pernah terusik keberadaannya. Meski usianya sangat tua, belum ada tanda pohon itu mau ditebang.

Padahal jika sampai tumbang, pohon ini bisa mengancam penduduk sekitar karena berada di tengah pemukiman.

Tentu saja pohon ini punya sisi lain yang membuatnya begitu berarti bagi warga.

Penamaan dusun Watu Tumpang seakan menyiratkan, bebatuan tempat tumbuh batu itu punya arti khusus bagi penduduk terdahulu.

Terlepas dari mitos maupun sejarah kemunculannya, pohon ini memang memiliki keunikan tersendiri di banding pohon lain pada umumnya.




Umumnya pohon tumbuh di atas permukaan tanah dengan akarnya yang menghujam ke dalam.

Wajar, tanah jadi komponen penting sebagai sumber unsur hara untuk mendukung kehidupan tanaman.

Namun, pohon ini lain karena tumbuh di atas bebatuan purba.

Bebatuan ini pun memiliki tekstur unik, seperti bertumpuk-tumpuk namun saling terekat kuat karena proses alami.

Sebuah pohon besar menumpang tumbuh di atas batu yang memiliki ketinggian sekitar dua meter itu.

Tak ayal, di antara pepohonan sekitar, pohon itu terlihat paling tinggi menjulang lantaran tertopang batu.

Akar-akarnya yang tak terlihat menghujam ke celah batu yang tak diketahui kemana ujungnya.

Ajaibnya, di media yang tak wajar untuk tanaman itu, pohon tersebut dapat tumbuh baik dan besar.

Kelebihan lain, pohon ini mampu bertahan hidup sangat lama, diperkirakan mencapai seratusan tahun.

"Saya sebelum ada di sini, pohon ini sudah ada," kata Sutrisno, warga Dusun Watutumpang yang rumahnya berdekatan dengan pohon itu saat ditemui, Sabtu (7/4/2018).

Masyarakat memilih membiarkan pohon itu tumbuh tanpa ada usaha untuk mengusiknya.

Selebihnya, warga bersikap wajar terhadap pohon itu.

Tidak ada prosesi ritual atau ruwatan khusus untuk mengistimewakan pohon tersebut di saat-saat tertentu.

Yang mengeramatkan tempat tersebut justru segelintir orang dari luar dusun.

Sutrisno pernah melihat beberapa orang di waktu yang berbeda mengunjungi tempat itu.

Mereka memiliki hajat yang tidak diketahui penduduk sekitar.

Ia bahkan pernah melihat seorang menyepi di bebatuan bawah pohon itu hingga beberapa hari.

"Dulu memang ada yang berkunjung ke tempat ini, ada yang sampai beberapa hari," katanya.

Keberadaan watu tumpang dengan pohon besar di atasnya itu sudah tak asing bagi penduduk sekitar, termasuk oleh peneliti LIPI yang bermarkas di kampus tak jauh dari tempat itu.

Sugiyarto, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengaku belum meneliti langsung bebatuan yang ditumbuhi pohon besar itu.




Karena itu, ia belum bisa menyimpulkan jenis bebatuan maupun proses pembentukannya.

Namun dari pengamatan visual, batuan itu dimungkinkan masuk batuan purba.

Terlebih lokasi bebatuan itu masih berada di zona yang banyak ditemukan bebatuan purba.

Area Karangsambung merupakan lantai samudera purba yang kini muncul di permukaan sehingga memiliki kekayaan fosil dan bebatuan alam.

"Harus diteliti dulu untuk menentukan jenis batuannya,"katanya

Meski belum melihat langsung, Sugiyarto mencoba menjelaskan fenomena kemunculan pohon yang tumbuh subur di bebatuan itu dengan kaca mata ilmiah.

Bibit pohon bisa saja mulanya tumbuh dari tanah yang menempel di bebatuan serta mengandung unsur hara. Kesuburannya ditopang air hujan yang mendukung kelangsungan hidup tanaman itu.

Saat pohon tumbuh besar, akar-akarnya mungkin telah menghujam ke tanah melalui celah bebatuan.

Dari tanah di sekitar bebatuan, akar pohon itu dapat menyerap air dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman.

"Meski pohonnya kelihatan tumbuh di atas batu, bisa saja akarnya sudah menghujam ke tanah,"katanya.


 | Sumber : Tribun

Post a Comment

Powered by Blogger.