GOMBONG (www.beritakebumen.info) - Perkembangan perkotaan di Kecamatan Gombong dinilai kurang mendapatkan perhatian serius dari Pemkab Kebumen. Sebagai sebuah kawasan kota yang terus berkembang, Gombong seperti menggeliat tanpa arah dan perencanaan yang jelas. "Ibarat sebuah pesawat, Gombong terbang dengan mode autopilot. Tak ada pengendali, semua berkembang sekehendak laju tumbuh kota secara alamiah," ujar pegiat budaya dan pemerhati masalah kota Sigit Asmodiwongso, Senin (26/3).

Menurut Sigit, kondisi tersebut dapat dapat dilihat dari minimnya intervensi pemerintah daerah terhadap penyediaan fasilitas umum, penataan transportasi publik hingga pengelolaan tata guna lahan. Pedestrian di jalan-jalan Gombong sudah lebih dari 15 tahun tidak pernah dilakukan pembenahan dan penambahan. Pedestrian yang tersisa pun sebagian besar sudah diokupasi oleh pedagang kaki lima dan pemilik usaha lainnya.

Begitu juga dengan sistem drainase kota yang bisa dikatakan sudah nyaris tidak berfungsi sama sekali. Ironis dengan kawasan kota lama seputaran kompleks militer yang dibangun Belanda di Gombong Utara. Di sini sistem drainase dibangun terpadu dan sangat teliti sekalipun saat ini juga mulai kewalahan menghadapi perubahan lingkungan.

Lebih dari itu, kata dia, munculnya pusat-pusat kuliner "swakarsa" di seputaran Jalan Gereja, Jalan Sempor Lama dan Jalan Sempor Baru juga bagai pedang bermata dua. Di satu sisi merupakan tanda semakin aktifnya geliat ekonomi masyarakat, namun di lain pihak tanpa penataan dan pendampingan yang baik potensi ini akan menjadi bom waktu dalam penataan kota.

"Akhirnya sebuah potensi ekonomi dan wisata yang cemerlang akan berubah menjadi batu sandungan manajemen wilayah," kata pengelola Roemah Martha Tilaar (RMT) Gombong.

Sigit melihat, fenomena unik yang muncul merupakan perwujudan nyata karakter budaya Gombong yang mandiri dan ulet yakni adanya inisiasi-inisiasi masyarakat yang mencoba menjawab berbagai permasalahan-permasalahan lokal. Seperti munculnya komunitas Gerakan Tanggap Aksi Kemanusiaan (GertakS) yang aktif dan solutif menanggapi berbagai masalah dari sampah, aksi karitatif sosial hingga berbagai kegiatan peduli lingkungan lainnya.

Juga ada Komunitas Pusaka Gombong (Kopong) yang bergerak di bidang preservasi berbagai warisan budaya di seputaran Gombong. Yang penting disebut adalah adanya WA Group Seduluran Gombong yang beranggotakan warga Gombong dari berbagai elemen pengusaha, bridokrat, budayawan dan lain-lain.

Berbagai permasalahan di lapangan terbukti cepat mendapatkan solusi tanpa mengalami hambatan prosedur dan birokrasi komunikasi. "Berkaca dari semua hal itu, sudah waktunya Pemkab Kebumen memberi perhatian yang lebih memadai kepada pengembangan kawasan perkotaan Gombong," imbuhnya.

(Supriyanto /SMNetwork /CN26 )


 Sumber : Suaramerdeka

Post a Comment

Powered by Blogger.