=========== Baca Juga :===========


Foto: suaramerdeka.com/Supriyanto
GOMBONG (www.beritakebumen.info) - Semangat berkarya sastra sudah mendarah daging dalam diri Tunjung Kusnanto (60). Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai karyawan sebuah toko teknik di Gombong itu rajin mencurahkan perasaannya dalam karya puisi. Uniknya semua karyanya menggunakan bahasa ngapak khas Kebumen.

Ya, kumpulan karya Kus Diesel, panggilan akrabnya, kemudian dibukukan dalam sebuah kumpulan puisi bertajuk "waton Moni" yang akan diluncurkan di Roemah Martha Tilaar Gombong, Sabtu (27/1) mendatang.

Menurut Kus Diesel, panggilan akrabnya, puisi-puisi yang diciptakan merupakan hasil perenungan dan pengamatan dia terhadap berbagai hal yang dijumpai dalam hidup sehari-hari. "Puisi saya memang bukan puisi yang rumit. Bahasa yang saya gunakan sederhana, temanya pun sederhana. Kalaupun ada tema yang agak berat pasti saya ungkapkan dengan kacamata orang biasa seperti saya. Jadi kalau saya menulis mengenai korupsi misalnya, saya hanya semata mengungkapkan kepedihan orang kecil melihat para penguasa seenaknya mempermainkan kepercayaan rakyat," terang Kus.

Judul Beragam

Jika dilihat memang judul-judul puisi karya Kusnanto sangat beragam. Dia juga enteng saja mengangkat hal-hal remeh temah menjadi judul puisi, misalnya duit, beras bahkan beberapa merek mesin diesel pun bisa menjadi bahan puisinya.

Pegiat sastra Sabur Herdian Raamin menyampaikan apresiasinya atas terbitnya buku kumpulan puisi ini. Dia terkejut sekaligus terharu dengan karya Pak Kus. Buku karya Kusnanto membuktikan bahwa sastra milik semua orang. "Bahwa sastra lekat dengan hidup sehari-hari kita. Mungkin kita tidak sadar bahwa selama ini sudah mengerangkeng sastra ke dalam ruang kelas atau paling banter di atas panggung lomba.

"Tapi Kusnanto sudah membuktikan bahwa sastra milik semua, dan sastra ada di mana saja," ujarnya. (Supriyanto)


 | Sumber : Suara Merdeka (Supriyanto /SMNetwork /CN39 )

Post a Comment

Powered by Blogger.