Kilas Berita:

Genteng Soka dan Menyusupnya Paham Radikal

Bhabinkamtibmas rutin menyambangi pabrik genteng dan menyosialisasikan bahaya radikalisme. (GATRA/Ridlo Susanto/HR02)




PEJAGOAN (www.beritakebumen.info) - Kebumen, khususnya Kecamatan Pejagoan, dikenal sebagai penghasil genteng klasik berkualitas tinggi, soka. Namun, beberapa tahun terakhir, genteng soka terjepit persaingan dengan genteng modern. Imbasnya, banyak pengrajin limbung dan gulung tikar. Lebih dari separuh pekerjanya menganggur atau beralih pekerjaan lain.

Haji Sudjono (71 th) termangu-mangu di depan warung kopi Dukuh Penambang Desa Kedawung. Beberapa kali ia menyapa pekerja pabrik genteng yang lalu lalang. Ia adalah generasi kedua keluarga juragan genteng di Kecamatan Pejagoan, Kebumen, sentra pembuatan genteng klasik soka.

Sudjono mengemukakan, Genteng soka adalah bisnis turun temurun dari generasi ke generasi, sejak awal 1900-an. Pada masa jayanya, genteng soka merajai bisnis genteng di Pulau Jawa. Bahkan, genteng ini juga sempat diekspor ke Belanda lantaran kualitasnya yang teruji dan tahan lama. Keluarganya sampai keteteran lantaran permintaan konsumen yang begitu besar.

“Dulu sangat banyak permintaannya. Kita sampai menolak permintaan. Karena prosesnya kan tidak pendek. Mulai mengaduk bahan, mencetak, mengeringkan, membakar, butuh waktu dua minggu kalau cuacanya bagus. Kalau cuaca jelek, satu angkatan bisa sebulan,” ucapnya, kepada GATRA, Rabu (25/10/2017).

Tetapi kini, masa kejayaan itu tinggal kenangan. Sudjono menyebut, pabrik genteng keluarganya hanya cukup bertahan saja, tanpa memikirkan keuntungan berlipat seperti 10 atau 50 tahun lalu. Anak dan cucunya, kini meneruskan bisnis genteng bermerk SDN, yang menunjukkan bahwa mereka anak keturunan Haji Madarso. Juragan genteng kondang masa lalu. Sedikitnya 30 pabrik genteng merk SDN tersebar di Desa Kedawung dan Soka Lama. Pabrik-pabrik ini dikelola oleh generasi kedua dan ketiga keluarga Haji Madarso.

Sayangnya, genteng klasik soka terancam dengan maraknya produk genteng modern. Akibatnya, banyak pengrajin genteng skala kecil yang gulung tikar. Pemasaran harga genteng klasik mulai terganggu sejak 5 tahun terakhir. Persaingan dengan genteng modern itu menyebabkan pengrajin genteng terpaksa mengurangi jumlah produksi hingga 50 persen. Bahkan, banyak pula yang tidak tiap bulan berproduksi. Mereka baru berproduksi ketika ada pesanan. Beberapa di antaranya, telah berhenti beroperasi dan gulung tikar.

“Kalau sekarang produksinya hanya separuh dari kapasitas. Menjualnya yang sulit,” tuturnya.

Berkurangnya produksi genteng secara otomatis berpengaruh terhadap pendapatan pekerja. Sebab, pekerja mendapat upah berdasar hasil produksi harian. Biasanya, pekerja dibayar per minggu atau per 10 hari. Seorang pekerja, Tursiyah (56 th) menuturkan, dalam kondisi normal, sekelompok pekerja yang terdiri dari empat sampai lima orang biasanya bisa menghasilkan antara 9.000 hingga 12.000 genteng mentah per 10 hari.

Ongkos produksi genteng mentah adalah Rp 300 per genteng. Selanjutnya, ada pula ongkos memindahkan genteng ke tobong dengan harga Rp 25 per genteng. Rata-rata, dalam sebulan seorang pekerja bisa memperoleh pendapatkan upah total Rp 2 juta – Rp 2,5 juta. Namun, seiring menurunnya produksi, pendapatan pekerja berkurang separuh lebih. Sebab, mereka harus berbagi dengan kelompok pekerja lain yang berasal dari tobong yang tak lagi berproduksi.

“Kalau sekarang tidak bisa segitu. Soalnya tidak setiap hari bikin genteng. Ya separuhnya lah,” ujar Tursiyah.

Inilah yang diwaspadai Kepolisian Resor Kebumen. Kemiskinan dan tingginya pengangguran dinilai bisa menjadi jalan merasuknya paham radikal. Musababnya, paham radikal kerap menawarkan mimpi-mimpi yang dibungkus spiritualitas, dan kadang pula menawarkan materi. Sebab itu, kepolisian intensif menyambangi daerah-daerah sentra genteng.

Apalagi, di Kepolisian pernah menggrebek teroris di Desa Ungaran Kecamatan Kutowinangun 2013 lalu. Waktu itu, sempat terjadi baku tembak. Satu teroris tewas. Selain itu, diidentifikasi ada beberapa daerah yang menjadi kantong pergerakan paham radikal. Ini termasuk wilayah yang berdekatan dengan desa-desa sentra genteng soka.

Kepala Polres Kebumen, AKBP Titi Hastuti menerangkan, Bhabinkamtibmas Polsek dan Polres Kebumen rutin menyosialisasikan bahaya paham radikal ke daerah-daerah ini. Mereka berkunjung dari satu pabrik genteng ke pabrik genteng yang lain, atau bahkan ke warung kopi, tempat istirahat para buruh genteng.

“Secara periodik, kami rutin mengunjungi sentra pembuatan genteng. Kami sosialisasikan bahwa paham radikal berbahaya. Kalau mereka mendapati ada penyebaran paham radikal, maka mereka diimbau untuk melapor kepada kepolisian,” Titi menerangkan.

Kapolres menjelaskan, kepolisian juga bekerjasama dengan pondok pesantren, ulama, tokoh masyarakat dan pemerintah desa untuk menangkal menyebarnya paham radikal. “Peran seluruh elemen masyarakat dalam menangkal radikalisme amat vital. Jika seluruh elemen bekerjasama, paham radikal bisa ditangkal,” imbuhnya.

Sudjono mengakui, desanya sempat terpengaruh dengan kabar penggrebekan teroris pada 2013 lalu. Namun, perlahan, masyarakat melupakannya. Mereka kembali giat bekerja dan tak lagi memikirkan peristiwa itu. Namun, ia pun mendengar, di kampung sebelah, memang marak penyebaran paham radikal.

“Kalau di sini, saya tidak mendengar. Mudah-mudahan tidak ada,” katanya.

Sumber: gatra.com



No comments

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!