Kilas Berita:

Kemiri, Harta Karun Terpendam Desa Bonosari

SEMPOR (www.beritakebumen.info) - Desa Bonosari, Kecamatan Sempor, Kebumen memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Berbagai tanaman tumbuh subur di desa yang berada di sisi timur Waduk Sempor itu. Kemiri, kopi, aren, hingga pohon kluwek tumbuh rimbun di lahan-lahan milik masyarakat. Sayangnya, selama ini keberadaan pohon kemiri yang tumbuh di desa yang berada di perbukitan itu belum dimanfaatkan secara optimal oleh warga setempat.

Pasalnya, masyarakat belum mengetahui bagaimana cara mengolah biji kemiri, sehingga laku dijual. Selama ini, masyarakat hanya memanfaatkan kayu pohon kemiri saja. Setelah pohon kemiri terlihat besar, warga memotong pohon dan menjual kayunya untuk bahan bangunan. Sedangkan biji kemiri yang sebenarnya memiliki nilai ekonomi tinggi dibiarkan jatuh berserakan tanpa ada yang menyentuhnya. “Sampai sekarang kami masih belum tahu cara mengolah biji kemiri, sehingga bisa layak untuk dijual,” ujar Tuju (48) warga Dusun Tundan, Desa Bonosari kepada Suara Merdekabaru-baru ini.

Menurut warga yang memiliki lima pohon kemiri itu, keberadaan pohon kemiri di Desa Bonosari berawal sekitar tahun 1995. Saat itu adiknya Sarikin yang pulang kampung membawa sekitar 20 biji kemiri dari Sumatera. Biji kemiri tersebut ditanam dan hingga tahun 2001 tanaman kemiri mulai berbuah. “Sejak saat itu, tanaman kemiri menyebar. Bahkan biji kemiri yang jatuh tumbuh menjadi pohon yang subur. Banyak yang minta untuk ditanam, sehingga perkembangannya begitu cepat,” imbuhnya.

Kepala Desa Bonosari Darsono mengakui, tanaman kemiri tumbuh dengan baik di desanya. Dari sekitar 120 kepala keluarga sekitar 60 persen keluarga memiliki tanaman kemiri. Populasinya saat ini mencapai 200 pohon. Itu pun tumbuh liar. Pohon ini memang belum diberdayakan sebagai komoditas unggulan. Sebenarnya dia mengakui sudah menyadari kalau kemiri memiliki potensi bagus untuk dikembangkan. Tetapi mereka selalu terhalang kesulitan bagaimana cara mengolah. “Pernah dibantu KKN mahasiswa Unsoed Purwokerto, tetapi masih gagal,” ujar Darsono.

Harapan Baru

Saat ini, warga Desa Bonosari memiliki harapan baru setelah mendapatkan motivasi B’NB Community bahwa kemiri merupakan komoditas yang sangat potensial untuk dibudidayakan. Tak hanya memberikan sosialisasi, komunitas bernyanyi sambil berinfak yang motori Hj Sri Suratmi (59) tersebut menggandeng jajaran Muspika Kecamatan Sempor mengajak masyarakat untuk menanam pohon kemiri. “Kami mencoba memfasilitasi agar masyarakat bisa mengolahnya, sehingga mereka bisa mendapatkan manfaat dari banyaknya pohon kemiri yang tumbuh di Desa Bonosari,” ujar Sri Suratmi yang tak lain istri Direktur Utama PT Indo Power Makmur Sejahtera Subono HK tersebut.

Dia mengaku prihatin saat melihat banyak biji kemiri yang berserakan begitu saja tanpa ada yang mengambil manfaatnya. Untuk itulah, pihaknya tergerak mengambil peran agar komoditas itu bisa diambil manfaatnya. Pihaknya memotori warga untuk melakukan penghijauan.

Usai penghijauan, sore harinya dilaksanakan buka puasa bersama dan memberikan santunan kepada anak-anak yatim dan lansia. “Saya bersyukur, paling tidak kesadaran warga Desa Bonosari untuk menanam pohon kemiri meningkat,” imbuh perempuan kelahiran Gombong 29 Agustus 1956 yang masih enerjik itu. Ya, B’NB Community merupakan komunitas yang didirikan Sri Suratmi bersama 11 sahabatnya tahun 2013. B’NB merupakan kependekan dari bernyanyi dan berinfak. Pada awalnya, para perempuan itu terkumpul lantaran kesamaan hobi bernyanyi. Tak sekadar menyanyi, setiap anggota yang berasal dari berbagi latar belakang mulai dari notaris, pengusaha travel, ibu rumah tangga, pedagang, hingga wiraswasta itu memberikan infak seikhlasnya. “Infak sukarela yang terkumpul itu, untuk mendanai sejumlah kegiatan, seperti acara hari ini,” ujarnya. (Supriyanto-32 / suaramerdeka.com)



KIRIMKAN INFORMASI / TULISAN / OPINI / UNEK-UNEK ANDA KE:
admin@beritakebumen.info

No comments

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!