Kilas Berita:

Tanda Tangan Aspal Dibuat Pelapor, Guru SMP Bebas Murni

KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Perkara tindak pidana pemalsuan surat dan penggelapan yang cukup unik disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kebumen, Senin (14/3). Terdakwa perkara pemalsuan surat tersebut divonis bebas murni. Dalam persidangan terungkap, pembuat tanda tangan asli tapi palsu alias aspal tersebut adalah si pelapor sendiri.

Terdakwa dalam perkara adalah seorang guru Bimbingan Konseling (BP) SMP 2 Puring warga Desa Kedaleman Wetan, Kecamatan Puring. Sedangkan pelapornya adalah Kusnanto seorang PNS di RSUD Soedirman Kebumen yang sebelumnya di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kebumen.

Majelis hakim yang dipimpin Hakim Ketua Santosa SH MH dengan hakim anggota Bayu Ardi SH MH dan Nurjamal SH memutuskan terdakwa Sarju bin bin Karto Sumarni tidak terbukti melakukan tindak pidana penggelapan serta tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar pasal 372 KUH Pidana.

Terdakwa juga tidak terbukti melakukan tindak pidana pemalsuan surat dan tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar pasal 263 KUHPidana. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dian Wibowo SH dan Arif Wibisono SH menyatakan pikir-pikir atas vonis majelis hakim.

Sedangkan Sarju yang didampingi kedua penasihat hukumnya D Sriyanto SH MH dan Heru Sutoto SH mengaku bersyukur atas putusan majelis hakim yang memvonis bebas dirinya dari segala tuntutan. Apalagi dia tidak pernah melakukan apa yang didakwakan.

Sebaliknya dia akan melaporkan balik Kusnanto atas perkara pencemaran nama baik dan pelapor palsu dan membayar ganti rugi material dan nonmaterial sebesar Rp 1 miliar. ’’Dalam kasus ini, saya sempat ditahan selama 14 hari oleh penyidik Satrekrim Polres Kebumen,’’ ujar Sarju kepada Suara Merdeka usai menjalani sidang putusan.

Menurut dia, pelapor dinilai sebagai saksi pelapor palsu yang dengan sengaja merencanakan suatu tindakan kejahatan dan melawan hukum. Tujuannya, untuk menghapus utangnya pada BPR DMS Kebumen supaya tidak membayar dan jaminan sertifikat rumahnya yang berada di Jalan Indrakila, Kebumen tidak disita dengan mengkambinghitamkan dan mengorbankan dia sebagai terdakwa.

Sementara itu, dalam persidangan terungkap kasus itu bermula dari kerja sama bisnis percetakan untuk mengerjakan proyek-proyek cetak Disdukcapil tahun 2008. Sebagai investor pelapor memberikan modal usaha Rp 50 juta. Kemudian dia juga menawarkan dua sertifikat tanah untuk dicarikan pinjaman di bank guna mendapatkan uang sebagai modal usaha percetakan bersama.

Pada Februari 2009 pelapor memberi modal usaha percetakan hasil pinjaman BPR DMS Rp 100 juta. Pinjaman pertama dengan waktu pinjaman enam bulan lunas dan pelapor mendapat bagi hasil Rp 5 juta yang diterimakan kembali kepada terdakwa untuk tambahan modal. Kemudian Semptember 2009 pelapor kembali memberi modal usaha percetakan Rp 125 juta dari hasil pinjaman BPR DMS. Adapun debitor adalah Agus Afandi dengan penjamin pelapor dengan jaminan dua sertifikat tanah.

Take Over

Dalam realisasinya uang tersebut digunakan untuk modal usaha bersama, antara lain untuk membayar kontrak rumah tempat usaha selama dua tahun di Desa Petanahan Rp 15 juta, membeli dua mesin foto copy jenis IR 5000 seharga Rp 22,5 juta dan jenis mesin foto copy cannon 6650 seharga Rp 18,5 juta, membeli tiga etalase toko Rp 6,5 juta, membeli dua unit printer foto merk Cannon R 320 Rp 4,6 juta hingga Rp 66,4 juta untuk belanja dagangan ATK dan modal kerja percetakan.

Kemudian, dilakukan proses take over kredit dari debitor Agus Afandi menjadi debitor Kusnanto dengan alasan akan mengambil sebuah sertifikat yang beralamat di Desa Logede, Pejagoan.

Kurang lebih seminggu sebelum kredit Agus Afandi jatuh tempo, Kusnanto diberi tahu jika kreditnya mau diperpanjang lagi selama tiga bulan, karena proyek belum dibayar lunas sehingga belum ada uang Rp 125 juta untuk melunasi Bank BPR DMS.

Singkat cerita, terdakwa dan Agus Afandi diajak kerja sama melawan BPR DMS untuk tidak usah membayar utangnya. Sebab BPR DMS mempunyai kelemahan, yaitu ketika tanda tangan putusan kredit take over tidak di depan bank dan tidak ada yang melihat. Lagi pula tandatangan pelapor di BPR DMS dibuat berbeda.

’’Saya dan Agus Afandi diminta kerja sama untuk menjadi saksi mengatakan kalau pelapor tidak tanda tangan berkas take over bank. Saya dan Agus Afandi menolak ajakan itu,’’ ujar Sarju yang pernah menjadi duta guru teladan tingkat Kebumen. Pada akhirnya kasus ini dilaporkan ke Reskrim Kebumen pada 25 Maret 2013 dengan nomor laporan LP/51/III/2013/JATENG/RES KBM. Isi laporannya adalah telah terjadi pemalsuan surat dan penggelapan pada 27 Juli 2010. Pada tanggal 30 September 2014 terdakwa ditahan selama 14 hari oleh penyidik Reskrim Kebumen dengan surat perintah penahanan No.SP.Han/90/IX/2014/Reskrim. (J19-32/suaramerdeka.com)



_________________________________________________________________________________________

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN KERJA YANG BAIK DAN SIMPEL SERTA TEMPLATE DAFTAR RIWAYAT HIDUP(CURICULUM VITAE)

_________________________________________________________________________________________
KIRIMKAN INFORMASI / TULISAN / OPINI / UNEK-UNEK ANDA KE:
beritakebumen@gmail.com

=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================

No comments

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!