Kilas Berita:

Tanaman Penghijauan Mati, Proyek Ratusan Juta Sia-sia

KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Kabupaten Kebumen merupakan salah satu kabupaten di kawasan pesisir selatan yang memiliki bentukan gumuk pasir yang cukup luas. Gumuk pasir tersebut terbentang sepanjang kurang lebih sembilan kilometer dengan lebar rata-rata 800 meter ke arah daratan. Sayangnya, di sepanjang pantai selatan, sebagian besar gumuk pasir itu telah mengalami kerusakan akibat aktivitas penambangan pasir yang tak terkendali. Bahkan sekarang ini, gumuk pasir bakal terancam oleh aktivitas industri yakni pembuatan tambak udang. Lebih parahnya, penghijauan yang diharapkan dapat menjadikan gumuk pasir menjadi green belt alias sabuk hijau untuk mitigasi tsunami hanya sekadar proyek.

Bagaimana tidak, dari pantauan Suara Merdeka di Dusun Malang, Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan ribuan bibit tanaman yang ditanam dalam proyek pemerintah pusat melalui kegiatan Direktorat Pesisir dan Lautan, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (Ditjen KP3K), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mati tak terurus. Kegiatan yang menelan anggaran APBN Rp 744 juta itu seakan sia-sia. Bagaimana tidak, tidak sedikit bibit tanaman yang ditanam sudah hilang dan tinggal tersisa bambu penyangganya.

‘’Tanaman ini sia-sia saja. Banyak yang mati karena tidak dirawat,’’ ujar Ngawiyah (50) warga Desa Tegalreno yang sehari-hari berjualan di dekat TPI Tegalreno.

Ya, dalam kegiatan 2015 yang disebut sebagai proyek aspirasi tersebut, pengadaan bibit cemara laut 25.892 batang, tanaman pandan 2.547 batang dan bibit tanaman sukun 447 batang. Jumlah pengadaan bibit sekitar Rp 285 juta. Namun pada realisasinya tanaman tersebut sudah banyak yang mati karena diduga tidak dilakukan pemeliharaan sebagaimana mestinya.

‘’Bibit tanamannya kecilkecil, bahkan untuk tanaman pandan banyak yang sudah mati sebelum ditanam,’’ ujar Sardi (40) salah satu nelayan.

Tak Ada Perawatan Memang dari dalam kegiatan itu, selain untuk pengadaan bibit juga ada anggaran penyapihan, penataan areal, hingga penanaman. Bahkan pascapenanaman juga dianggarkan pemeliharaan mulai dari pupuk, bibit penyulaman dengan nilai lebih dari Rp 160 juta.

‘’Sudah beberapa bulan ini, sepertinya tidak ada perawatan,’’ imbuh Ngawiyah yang menyebutkan bibit sukun banyak yang mati.

Kondisi green belt di kawasan gumuk pasir tersebut cukup memprihatinkan. Padahal minimnya vegetasi penutup dapat menyebabkan terjadinya penurunan fungsi dan kapasitas ekosistem pantai. Jika hal ini dibiarkan, dalam jangka panjang dikhawatirkan akan terjadi peningkatan intrusi air laut ke areal pertanian dan permukiman. Bahaya terbesar ialah meningkatnya kerentanan areal permukiman terhadap kemungkinan bahaya tsunami.

‘’Kami berharap proyek pemerintah benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya,’’ ujar warga lain yang prihatin kondisi gumuk pasir yang gersang. (J19-36/ Suara Merdeka)



_________________________________________________________________________________________

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN KERJA YANG BAIK DAN SIMPEL SERTA TEMPLATE DAFTAR RIWAYAT HIDUP(CURICULUM VITAE)

_________________________________________________________________________________________
KIRIMKAN INFORMASI / TULISAN / OPINI / UNEK-UNEK ANDA KE:
beritakebumen@gmail.com

=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================

No comments

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!