• Kabar Terkini

    15 February 2016

    Produksi Sulit & Keuntungan Sedikit, Pengrajin Leper Berupaya Bangkit

    Keripik Leper khas Desa Bandung Kebumen. (Foto: Aisyah)
    KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Pernah makan keripik leper? gurih dan renyah bukan? Dibalik kenikmatan panganan hasil olahan singkong ini, pengrajin/produsen leper belum begitu menikmati 'gurihnya' hasil jerih payah mereka.

    Pangsa pasar untuk kripik leper ini sebenarnya masih cukup potensial. Bahkan tak jarang kripik leper habis dipesan sebelum produk itu sendiri usai dibuat. Seperti diungkapkan Mutitah, salah satu pengrajin leper di Desa Bandung, Kecamatan Kebumen belum lama ini.

    "sering malah yang mau beli tidak kebagian, sudah habis dipesan. kalau mau leper biasanya pesan dulu.(-red)" ungkap Mutitah dalam bahasa ngapak.

    Ketidamampuannya dan para pengrajin leper lain di Desa Bandung memproduksi leper dalam jumlah banyak dan rutin disebakan beberapa hal. Mulai dari bahan baku dan proses produksi yang sulit hingga keuntungan yang dinilai sangat sedikit.
    Untuk urusan bahan baku, tidak semua singkong bagus dipakai untuk membuat leper. Mereka lebih menyukai singkong dari Tlogowulung dan Tanahsari karena teksturnya mempur agak keras.

    Proses pembuatan kripik leper butuh waktu sekitar 3 hari bahkan lebih. Setelah dikupas dan dibersihkan singkong mula-mula direbus hingga matang. Singkong rebus kemudian ditumbuk sampai halus saat suhunya masih cukup panas. Singkong yang telah ditumbuk halus lalu disimpan selama semalam. Setelah itu adonan tersebut diuleni dan dibentuk bulat tipis dengan tangan satu persatu. Tak sampai disitu, sebelum dijemur, lembaran kripik leper yang masih basah tersebut kembali harus disimpan terlebih dahulu satu malam.

    Beratnya proses pembuatan kripik leper juga menyebabkan minimnya minat 'generasi penerus' pembuat leper. "Prosesnya susah dan berat. Tenaga pembuatnya kurang, anak-anak juga enggan." imbuh Mutitah yang masih setia dengan leper meski usianya melewati 60 tahun.

    Menurut Watini yang berperan sebagai pemasar produk leper di kelompok pengrajin leper yang juga kelompok binaan Program Keluarga Harapan (PKH), kripik leper kering dijual per 100 lembar dengan harga pasaran Rp 7.500,- s.d Rp 8.000,-.
    "Saya keliling, ke warung-warung kecil. Yang minat banyak, stoknya sering kurang." terang Watini kepada pendamping PKH.

    Meski fokus utama program pemutusan rantai kemiskinan PKH ini melalui perhatian terhadap komponen Pendidikan dan Kesehatan, nyatanya juga dapat menjadi sarana pembinaan usaha dan pemberdayaan melalui pertemuan kelompok yang rutin dilakukan setiap bulan. Melalui pembinaan, wawasan dan kiat-kiat yang diberikan oleh pendamping PKH mereka merasa mendapat pencerahan dan harapan untuk bangkit mengembangkan usaha mereka. (BK/Ais)


    _________________________________________________________________________________________

    DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN KERJA YANG BAIK DAN SIMPEL SERTA TEMPLATE DAFTAR RIWAYAT HIDUP(CURICULUM VITAE)

    _________________________________________________________________________________________
    KIRIMKAN INFORMASI / TULISAN / OPINI / UNEK-UNEK ANDA KE:
    beritakebumen@gmail.com

    =============================================================
    Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
    | FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
    =============================================================
    • Komentar Blogger
    • Komentar Facebook

    0 comments:

    Post a Comment

    Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

    Item Reviewed: Produksi Sulit & Keuntungan Sedikit, Pengrajin Leper Berupaya Bangkit Rating: 5 Reviewed By: Berita Kebumen Beriman
    Scroll ke atas