• Kabar Terkini

    17 February 2015

    Hidup itu Belajar

    ARTIKEL (www.beritakebumen.info) - Judul di atas nampaknya sederhana saja. Persoalannya, apakah kita cukup belajar untuk ‘hidup’ ataukah kita harus hidup untuk ‘belajar’? mereka yang belajar untuk hidup cukup mengantongi ijazah dan selesailah tugasnya di dunia ini. Manusia harus memiliki suatu ketrampilan untuk dapat hidup. Bahkan binatang pun belajar ketrampilan secara naruliah untuk dapat mempertahankan hidupnya. Anak singa belajar dari orang tua mereka cara mengintai, mengendap-endap, dan menerkam bagian tubuh korbannya yang paling mematikan.

    Para pemuda suku primitif di masa lampau diajari cara berburu dan mempertahankan hidup mereka tanpa bantuan orang tua. Anak petani sejak kecil diajak orang tuanya ke ladang atau sawah, belajar mengemburkan tanah, menyebar benih tanaman, menyiangi rumput parasit, menangkal hama tanaman, dan mencintai tanaman. Anak kota sejak balita telah dimasukan play group diajari cara menjadi penduduk kota dan beradaptasi padanya.

    Mereka yang berpegang teguh pada ‘hidup untuk belajar’ tidak membutuhkan simbol, bahkan juga tidak membutuhkan pengakuan dari siapa pun. Seorang sarjana ekonomi tak akan pernah berhenti belajar ekonomi, meskipun ia telah dinyatakan lulus cum lade dalam desertasi S3-nya. Gelar semacam itu bagi mereka yang menganut asas ‘hidup itu belajar’ kadang malah merupakan beban, karena orang lain selalu menggambarkan dirinya sebagai pakar, sedang dirinya masih kurang tahu saja, kurang belajar saja, dan masih begitu banyak yang harus dipelajarinya dalam bidang keahliannya. Begitu banyak pertanyaan, begitu banyak persoalan, begitu banyak misteri pengetahuan yang kurang jelas jawabannya.

    Ada pepatah yang mengatakan, ‘tidak belajar satu hari berarti mundur satu hari’. Dari sini dapat dibayanngkan bagaimana wujud orang yang menyatakan dirinya telah selesai belajar. Bahwa belajar itu ada waktunya, dan menikmati hasil belajar itu adalah hak diri sepenuhnya.

    Sikap hidup untuk belajar ini semakin luntur di masyarakat kita. Orang lebih menyukai kemasan pikiran, lebih baik lagi kalau seragam. Berbagai paket ini mengandaikan bahwa masa belajar itu ada waktunya dan di akhiri harus dengan pesta, upacara. Hidup menjadi serangkaian upacara yang tingkatannya semakin rumit. Bukan serangkaian ‘penderitaan’ belajar. Orang yang tidak suka belajar tidak akan suka mencari dan tidak akan suka maju dalam arti yang sesungguhnya.

    Orang memang perlu belajar untuk hidup. Tetapi, belajar untuk hidup ini tak banyak artinya kalau tidak dilandasi asas ‘hidup itu belajar’. Meskipun kita belajar sampai tua, dalam bidang apapun, tak pernah tamat. Emas itu bisa dinilai, tetapi belajar itu tak ternilai. Anda boleh mewariskan emas intan bagi anak anda. Tetapi lebih baik lagi kalau anak anda mampu mewujudkan ‘Gudang Intan Nabi Sulaiman’dengan otak mereka.

    Penulis : Arifudin, Mahasiswa Sastra Jawa, Universitas Negeri Semarang



    _________________________________________________________________________________________

    DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN KERJA YANG BAIK DAN SIMPEL SERTA TEMPLATE DAFTAR RIWAYAT HIDUP(CURICULUM VITAE)

    _________________________________________________________________________________________
    KIRIMKAN INFORMASI / TULISAN / OPINI / UNEK-UNEK ANDA KE:
    beritakebumen@gmail.com

    =============================================================
    Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
    | FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
    =============================================================
    • Komentar Blogger
    • Komentar Facebook

    0 komentar:

    Post a Comment

    Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

    Item Reviewed: Hidup itu Belajar Rating: 5 Reviewed By: Berita Kebumen Beriman
    Scroll ke atas