Kilas Berita:

Ancaman Kapitalisme : Masih Adakah Cendekiawan Muda di Indonesia?

OPINI (www.beritakebumen.info) - Cendekiawan atau intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan.Tentu kita masih ingat dengan Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, mereka adalah contoh cendekiawan muda yang dimiliki bangsa Indonesia pasca kemerdekaan. Mereka senantiasa berjuang melawan ketidakadilan, berani menentang penindasan melalui gagasan-gagasan, idealisme serta tidak takut menyuarakan dengan lantang ketidakadilan yang terjadi pada masa mereka. Sudah lebih dari lima dekade, sulit sekali menemukan manusia-manusia pemberani seperti mereka. Mereka telah meninggalkan kita di usia yang masih muda. Soe Hok Gie meninggal di usia yang ke 26 sedangkan Ahmad Wahib di usia yang ke 30. Sekarang era baru sudah dimulai, era dimana kita sudah dimudahkan dengan berbagai kecanggihan zaman, namun persoalan mengenai bangsa ini terasa makin kompleks. Semua terasa tenggelam dalam gemerlapnya teknologi yang membuat kita melupakan ketidakadilan,penindasan, serta penjajahan model baru di era modern. Hal ini yang memuncukan pertanyaan “Masih adakah sosok cendekiawan muda di Indonesia?”


Imperialisme Era Moden

Pemuda mengambil peranan vital dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia. Berkaca dari sejarah, mungkin kita belum bisa merasakan bebasnya udara kebebasa tanpa kehadiran mereka. Tentu kita masih ingat gerakan pemuda sebelum Indonesia merdeka, mereka berjuang dengan semangat muda mereka untuk terlepas dari rantai penjajahan. Mereka berjuang dengan mempertaruhkan segalanya, berjuang dengan segenap jiwa dan cinta mereka terhadap negeri ini. Rengasdengklok adalah salah satu contoh gerakan yang dipelopori oleh kaum pemuda pada saat itu guna mendesak Ir Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sampai akhirnya bangsa Indonesia benar-benar merdeka di tanggal 17 bulan Agustus tahun 1945. Namun apakah setelah 69 tahun kita merdeka masih ada sosok pemuda seperti mereka? Apakah kita sudah benar-benar terbebas dari ancaman penjajahan? Jawabannya adalah “tidak”. Kini bangsa kita telah memasuki era baru, era dimana perkmbangan peradaban telah membutakan mata kita bahwa masih ada ancaman lain dibalik gemerlapnya modernisasi. Serangan baru dari luar bukan dalam bentuk fisik berwujud perang atau agresi militer, tetapi ancaman tersebut adalah ancaman kapitalisasi global yang menyerang pola pikir kita untuk tenggelam dalam nikmatnya surga kapitalis. Wabah kapitalis membuat para pemuda kehilangan pola pikir serta idealismenya, menghilangkan jiwa cendekiawan dari dalam diri mereka digantikan dengan jiwa pecinta kenikmatan semu yang membanggakan harta dan keglamoran dunia, tidak meperdulikan masih banyak diluar sana orang-orang yang mencari makan diantara tong sampah.

Pesona Kapitalisme

Kapitalisme seakan tidak pernah kehilangan pesonanya. Wujudnya seaakan menghipnotis kita akan keindahan di dalamnya. Tidak berbeda dengan bisikan setan yang merasuk kedalam pikiran dan menyebar kedalam pembuluh darah kita. Kita yang belum siap menerimanya dibuat seperti robot yang tak bernyawa. Produknya dikemas dengan sangat berkelas dengan segala pernak-perniknya. Wujudnya bermacam-macam dan bisa menyerupai apa saja, gadget, kendaraaan, gaya hidup dan yang lainnya. Ini merupakan hasil dari sebuah kemajuan, serta kecerdasan umat manusia. Kita memang seharusnya bangga dengan semua kemajuan yang ada. Segala kegiatan kita dapat dipermudah dan dapat bekerja dengan cepat serta dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Tapi tunggu dulu, apakah mobil akan sangat berguna jika dikendarai dengan kecepatan tinggi di jalan umum yang penuh dengan keramaian?, apakah kita menggunakan mobil untuk dipamerkan kepada dunia bahwa ini mobilku?, Apakah kedudukan mobil sudah sejajar dengan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Pesona mereka sudah seperti bak dewa yang senantiasa dipuja oleh para pengkutnya. Dewa baru yang akan memberikan kebahagiaan bagi semua orang diseluruh dunia. Dewa tersebut adalah dewa kapitalis.  Sungguh indah bukan, kita dapat menikmati fasilitas teknologi yang ada, pergi ke Mc Donald, jalan-jalan ke Mall, memakai gadget mahal, mengendarai mobil Ferarri, bergaya bak selebriti. Sungguh pesona yang luar biasa indahnya bukan. Sekarang adalah zaman cosmo, ketinggalan zaman bila kita tidak memakainya. Alasan ini yang dipakai sebagai alat propaganda kapitalis terhadap kita. Namun kita seaakan dibuat buta, dimana tolak ukur kesuksesan seorang manusia, pegi ke Mc Donald?, jalan-jalan ke Mall, memakai gadget mahal?, atau mengendarai mobil Ferarri? Tak salah jika saya menyebut bahwa ini merupakan  Imperialisme baru di era modern.

Mencari Sosok Cendekiawan serta Pergesaran Pola Pikir serta Idealisme Pemuda di Indonesia

Indonesia merupakan bangsa yang besar yang kaya akan budaya dan tradisi. Pemuda merupakan aktor penting dalam perkembangan bangsa guna mempertahankan budaya serta tradisi kita. Sosok yang pemberani dan memiliki idealisme tinggi guna membangun kemajuan bansa. Hal yang tidak aneh karena para Pemuda yang kelak akan membawa bangsa ini menuju kesejahteraan. Suatu hal yang sudah dicita-citakan oleh para pemuda terdahulu yang berharap anak cucu mereka meneruskan perjuangan mereka. Bukan perjuangan mengangkat senjata tetapi perjuangan melawan arus globalisasi yang dapat mengancam budaya dan tradisi bangsa serta kemajuan bangsa. Sejenak saya berfikir bagaimana jika mereka para pemuda terdahulu dihidupkan kembali dan melihat pemandangan di era modern ini, bagaimana mereka melihat penerus mereka yang berada di jaman ini. Saya yakin mereka akan meneteskan air mata seraya mengatakan “apakah ini yang kami wariskan kepadamu hai para pemuda?”. Sudah terjadi pergeseran pola pikir serta idealisme di antara pemuda. Bagaimana arus Globalisasi sudah benar-benar mengubah pola pikir dan idealisme para pemuda saat ini. Pola pikir mereka sudah diracuni oleh produk-produk modernisasi yang membuat mereka seakan-akan mati di tengah arus global. Terombang-ambing kesana kemari seperti sehelai bulu kucing di tengah lautan. Hal ini dapat menjelaskan sebagai sebuah penjajahan era modern seperti yang saya tulis diatas. Penjajahan yang bertujuan untuk mengubah pola pikir manusia untuk dikendalikan guna mendukung kepentingan mereka. Sebuah kapitalisasi global yang mengancam generasi muda di Indonesia. Bukan hanya narkoba saja. Hal ini dapat dijelaskan dengan berbagai fenomena yang sedang mewabah di antara pemuda Indonesia saat ini. Menjamurnya teknologi modern telah menempatkan kebutuhan primer diatas kebutuhan sekunder. Mereka lebih tertarik untuk update status di facebook, twitter, atau posting momen di path hanya untuk suatu hal yang sangat tidak penting.  Sensitivitas yang sudah luntur ditelan produk era modern ini. Hal ini yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi sebelum bangsa ini mengikrakan proklamasi di mata dunia, atau di era ketika orde lama dan orde baru menjalankan rezimnya. Dengan segala tekanan yang diberikan kepada mereka, tetap saja dengan lantang menyuarakan ketidak adilan serta penindasan yang merajalela. Tidak memperdulikan nyawa sebagai taruhannya. Tidak memperdulikan mereka akan dikucilkan oleh dunia mereka, tapi itulah mereka. Pemuda yang senantiasa berjuang mempertahankan idealisme mereka. Sia-sia sekali rasanya pejuangan mereka diteruskan generasi buruk yang diperbudak oleh kapitalis seperti di zaman ini. Generasi muda yang telah menjadi babi-babi kapitalis yang tidak peka terhadap ketidak adilan yang ada. Korupsi dimana-mana, kemiskinan merajalela, indeks perumbuhan sumber daya manusia yang menempati posisi terbawah diantara negara Asia. Kemana perginya para cendekiawan muda seperti sosok Soe Hok Gie ataupun Ahmad wahib sekarang ini.

Renungan dan Evaluasi Diri

Perkembangan arus globalisasi sudah menciptakan kemajuan serta penemuan-penemuan baru yang tidak terbayangkan sebelumnya. Perkembangan alat telekomunikasi, transportasi, serta ideologi. Memang sudah sewajarnya kita menikmati perkembangan itu. Kita tidak bisa terus bertahan mengikuti era feodal tapi hendaknya kita tidak ikut larut dalam gemerlapnya modernisasi ini. Jangan sampai mata kita tertutup oleh produk-produk modernisasi yang serba mewah itu. Jangan biarkan ambisi-ambisi kapitalis menyelimuti pikiran dan idealisme kita. Kita adalah generasi baru penerus bangsa kita gunakan kemajuan yang ada untuk mengatasi permasalahan-permasalahan bangsa.Kita pemuda adalah sosok idealis yang memiliki sensitivisme terhadapa ketidak adilan, kita selalu antipati terhadap segala produk kebijakan. Sikap yang mendorong perubahan, serta kemajuan bangsa. Itulah alasan kita sebagai kaum muda, calon-calon cendekiawan yang akan mengubah dunia.

Penulis : Faris Nurrahman
Mahasiswa S1 Ilmu Pemerintahan FISIP UNDIP


_________________________________________________________________________________________

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN KERJA YANG BAIK DAN SIMPEL SERTA TEMPLATE DAFTAR RIWAYAT HIDUP(CURICULUM VITAE)

_________________________________________________________________________________________
KIRIMKAN INFORMASI / TULISAN / OPINI / UNEK-UNEK ANDA KE:
beritakebumen@gmail.com

=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================

No comments

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!