Kilas Berita:

Kerajinan Ukiran Kelapa, dari Limbah Menjadi Rupiah

KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Di tangan orang kreatif, limbah atau sampah bisa diubah menjadi produk yang bernilai tinggi. Seperti kelapa yang tak berisi alias mandul, selama ini hanya dimanfaatkan petani untuk kayu bakar membuat gula kelapa. Tetapi, di tangan Aryo Sugito (51) kelapa gabug yang telah kering itu diukir menjadi karajinan yang cukup menarik.

Ya, dengan bakat seni yang dimiliki, warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen mengukir kelapa gabug menjadi aneka bentuk binatang. Antara lain kera, kura-kura, burung hantu, kuda, kelinci, kodok, hingga burung walet. Bapak tujuh anak tersebut juga mampu mengukir buah kelapa kering itu menyerupai wajah manusia.

Secara otodidak, Aryo yang mengklaim dirinya sebagai seniman jalanan mengaku secara otodidak menekuni kerajinan itu sejak 1971. Akan tetapi dia benar-benar fokus menjadikan kerajinan ukir kelapa sebagai sumber pendapatan sejak empat tahun terakhir. Akan tetapi usahanya itu dijalankan di Lampung tempat dia dan keluarganya menetap sejak 1977.

“Saya di Kebumen sejak empat bulan lalu saat pulang kampung untuk menengok anak yang sekolah di sini,” ujar Aryo Sugito kepada Suara Merdeka saat menjajakan kerajinannya di kawasan Alun-alun Kebumen.

Berbekal dengan pisau yang terbuat dari cakram sepeda motor, dan sikat besi dia cukup terampil mengukir kelapa. Satu ukiran standar hanya dikerjakan dalam waktu satu jam. Sedangkan untuk permintaan yang detail dan rumit dikerjakan dalam
waktu dua jam. Hasil kerajinan karya Aryo Sugito ditawarkan antara Rp 25.000 hingga Rp 200.000/unit.

“Ya, tergantung ukuran dan kerumitan bentuknya,” ujarnya seraya mengukir bentuk monyet dengan ekpresi memang kepala.

Adapun bahan baku berupa kelapa gabug itu dibeli dari petani dengan harga pasaran kelapa isi. Jika harga satu butir kelapa Rp 1.000 dia pun membelinya dengan harga tersebut. “Banyak petani yang tidak tahu dan hanya menjadikan kelapa gabug sebagai bahan bakar,” ujarnya.

Selama ini, pria yang juga menggemari batu akik khas Kebumen itu menawarkan hasil karyanya secara keliling menggunakan becak yang dimodifikasi menjadi gerobak etalase. Terkadang dia mangkal di Pasar Koplak Dokar atau di trotoar jalan protokol di pusat kota Kebumen. Selain itu dia juga terkadang menawarkan produknya di arena pasar malam. Dalam sehari, rata-rata laku antara enam hingga 10 unit.

“Namanya jualan, kalau lagi sepi terkadang blong tidak laku sama sekali,” ujarnya seraya menyebutkan ke depan dia bertekad akan keliling Indonesia untuk mengenalkan hasil kerajinannya.

(Supriyanto/CN34/suaramerdeka)


_________________________________________________________________________________________

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN KERJA YANG BAIK DAN SIMPEL SERTA TEMPLATE DAFTAR RIWAYAT HIDUP(CURICULUM VITAE)

_________________________________________________________________________________________
KIRIMKAN INFORMASI / TULISAN / OPINI / UNEK-UNEK ANDA KE:
beritakebumen@gmail.com

=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================

No comments

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!