Headlines News :
Home » , » Puluhan Tahun ‘Prihatin’ Rawat Orang Gila, PP As Syamiyah Butuh Bantuan

Puluhan Tahun ‘Prihatin’ Rawat Orang Gila, PP As Syamiyah Butuh Bantuan

Written By berita kebumen on 20 Maret 2013 | 11.25

Pasien gangguan jiwa di kamar perawatannya. (foto: rahmat)
ALIAN (www.beritakebumen.info) - Melihat aktivitas mengaji di pondok pesantren itu sudah biasa, namun ada sesuatu yang ‘luar biasa’ di salah satu pondok pesantren kecil di RT.02/01 Desa Sawangan Kecamatan Alian Kebumen. Pondok pesantren Asy Syaamiyyah yang berdiri sejak tahun 1948 ini selain melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan, juga menjadi tempat rehabilitasi sosial bagi para penderita gangguan jiwa secara mandiri.

Awalnya, sekitar tahun 1960-an, sesepuh pondok Syech Mahfud ‘Ali (Alm) atau dikenal dengan Mbah Jadi sering mendapat panggilan ke beberapa daerah untuk menyembuhkan orang gila. Sebagian besar pasien yang ditanganinya sembuh dan semakin banyak yang meminta bantuan kepadanya. Hingga ahirnya keluarga pasien menitipkan anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa di pondok pesantren tersebut.

Sejak saat itu, pondok pesantren yang saat ini diasuh oleh K.H. Najmudin telah menjadi tempat ‘penitipan’ orang yang mengalami sakit jiwa untuk dirawat. Mereka ditipkan oleh keluarga mereka yang tak mampu mengurus anggota keluarganya yang sakit jiwa. Tak hanya dari wilayah Kebumen, mereka juga berasal dari luar kota seperti Jogjakarta, Purworejo, Kendal, Banyumas, Cilacap, Jakarta, bahkan hingga Riau. Latar belakang pasien pun beragam, mulai dari yang tidak sekolah hingga pasca sarjana (S2). Seperti ‘S’, pasien asal Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo yang sebelum dirawat di tempat tersebut adalah seorang mahasiswa S2 di salah satu universitas ternama di Jogjakarta. Adapula yang pensiunan guru sekolah dasar (SD), inisial ‘A’ asal Kecamatan Klirong yang telah 3 tahun di tempat itu. Namun kebanyakan dari mereka adalah orang biasa dan kurang mampu secara ekonomi.

Dari awal dirintis, ratusan orang berhasil disembuhkan dan dapat bersosialisasi layaknya orang normal. Saat ini terdapat 28 penderita gangguan kejiwaan yang direhabilitasi di pondok pesantren tersebut. Mereka yang masih ‘liar’ terpaksa dikurung atau dirante di kamar ala kadarnya. Sedang bagi yang mulai normal, mereka dibiarkan beraktivitas di lingkungan sekitar namun masih dalam pengawasan pengurus dan santri. Sebagian dari mereka juga telah bekerja mencari rumput untuk pakan ternak dan bekerja di sawah.

Untuk mencukupi kebutuhan para penderita gangguan jiwa tersebut, pengurus hanya mengandalkan sumbangan dari keluarga yang menitipkan. Namun tak jarang dari keluarga mereka yang hanya menitipkan tanpa memberikan sumbangan untuk perawatan. Meski demikian para penderita gangguan jiwa tetap diurus tanpa membeda-bedakan.

Kurang Perhatian

Sementara itu, meski telah puluhan tahun menjadi tempat rehabilitasi belum banyak mendapat bantuan ataupun donasi dari pemerintah maupun swasta. Hanya sekali mendapat bantuan Block Grant dari Kemenag Kabupaten Kebumen untuk pembangunan sanitasi sebesar Rp 10 juta tahun 2009 lalu. Bantuan tersebut dipergunakan untuk membangun 3 unit kamar mandi. Sementara prasana lainnya, menurut pantauan tim Berita Kebumen On Line pada Rabu (20/3), tampak sangat memprihatinkan.

“InsyaAlloh kita niatnya lillahita’ala, namun kita sangat senang jika ada bantuan. Khususnya untuk prasarana yang terus terang kita belum mampu membangunnya.” jelas Sarifudin, salah satu pengurus pondok sekaligus panti rehabilitasi.

Dengan berbekal tekat dan diniatkan ibadah, sejak dulu para pengasuh secara prihatin mengurus ‘pasien-pasien’ gangguan jiwa mereka. Saat ini, pengurus sedang mengusulkan bantuan kepada Kemenag Pusat. Namun nampaknya masih ada berkas administrasi yang belum lengkap. Sebelumnya mereka pernah berusaha mencari jalan dan meminta bantuan ke dinas terkait di Kebumen, namun belum ada hasilnya. Meski sangat butuh, hal itu membuat mereka tidak terlalu berharap dengan bantuan dari pemerintah.

“Kami berharap ada dermawan yang mau membantu mereka (penderita gangguan jiwa). Terutama untuk kebutuah sehari-hari seperti sembako dan baju pantas pakai. Karena selama ini sebagian besar hanya ditanggung oleh keluarga Pak Kiyai, sedang penghasilan Pak Kiyai tidak pasti.” terang Miftahudin, S.Ag yang turut membantu pendidikan di tempat tersebut. (bk01/mat)

Beberapa Foto Hasil Pantauan Tim Berita Kebumen On Line
Salah satu lokasi kamar pasien tampak memprihatinkan bahkan sebagian hampir roboh.

Beberapa pasien di ruang isolasi ala kadarnya.

Pasien yang sudah membaik dibiarkan beraktivitas di luar kamar.

Tim BK menemui  'A', pensiunan guru SD yang dirawat di tempat tersebut karena mengalami gangguan kejiwaan.

Salah satu lokasi kamar-kamar pasien gangguan jiwa di PP Asy Syaamiyyah.
Asrama santri dan pasien yang telah sembuh.

Gerbang pondok pesantren sekaligus panti rehabilitasi penderita gangguan jiwa.

Tim Berita Kebumen On Line (Rachmat, Nasirudin) bersama pengasuh pondok K.H. Najmudin, Sarifudin dan putrinya.



=============================================================
KOMENTAR PEMBACA | KOMENTAR FACEBOOKER

=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
Share this post :
Comments
0 Comments

Pilih Berita

Arsip Berita Kebumen

 
Berita Kebumen : Tentang | Redaksi | Donatur | Iklan | TOS | Faq | Kontak
Copyright © 2009-2013. Berita Kebumen On Line - All Rights Reserved
Edited by BK Team Published by Berita Kebumen On Line
Supported by Google