Headlines News :
Home » , , » Mbah Narto Berkawan Baik dengan Mantan Tentara Penjajah

Mbah Narto Berkawan Baik dengan Mantan Tentara Penjajah

Written By berita kebumen on 26 Agustus 2012 | 07.24

GOMBONG (www.beritakebumen.info) - Lelaki sepuh itu masih menampakkan wajah segar. Akhir Ramadan lalu, Mbah Narto — begitulah sapaan akrabnya — sibuk mengelap tombak koleksi di rumahnya Gang Sindoro III Nomor 2 Gombong. Dia berdiri memegang tombak ditemani seorang cucu, Bayu Aji Wibowo (11). HR Soenarto Danusumarto, nama aslinya, saat ini masih menjabat ketua Legiun Veteran Republik Indoneisa (LVRI) Cabang Kebumen sekaligus Koordinator LVRI Se-Kedu.

Di halaman rumah yang teduh, seorang pekerja sibuk membersihkan tombak yang lain. Dia mengelap satu per satu tombak tua itu. “Yang ini tinggalan dari Brawijaya. Yang ini tinggalan leluhur kami, Ki Bodronolo, cikal bakal Kebumen. Beliau bangsawan Mataram yang ditugasi sebagai semacam kepala bulog saat Sultan Agung menyerang Mataram dulu,” ujar Mbah Narto.

Saat Sultan Agung menyerang Batavia (Jakarta), beras dipasok dari Kebumen. Ki Bodronolo adalah bangsawan yang ditugasi menghimpun beras itu. Soenarto menuturkan tidak heran bila sampai sekarang Kebumen dikenal sebagai salah satu daerah subur dan lumbung padi di Jawa Tengah.

Lelaki yang terakhir menjabat Lurah Gombong itu mengajak mengobrol di ruang tamu. Cerita sejarah tiga zaman mengalir dari bibirnya. Meski sudah sepuh, memori lelaki lelahiran Desa Tunjungseto, Kecamatan Sempor, 1927, itu tak meluruh. Dia lancar dan runtut mengisahkan berbagai peristiwa penjajahan Belanda di sekitar Gombong.

Salah satu kisah heroik adalah peristiwa Garis Status Quo Kemit. Peristiwa 1947-1948 itu diabadikan dalam Monumen Kemit dan Prasasti Jembatan Kemit, di timur kota Gombong. Soenarto muda, kala itu, bukan hanya saksi sejarah, melainkan juga pelaku sejarah perlawanan pendudukan Belanda.

“Belanda boleh masuk RI dan Kebumen, tapi jangan sampai masuk wilayah kami. Kami dengan para pemuda pejuang menghalau Belanda agar tak masuk Gombong,” ujar Mbah Narto berapi-api.

Ketika menanggapi makna Proklamasi 17 Agustus 1945, dengan wajah dia mengalunkan lagu-lagu Jepang seperti “Di Timur Matahari” lengkap dalam bahasa Jepang. Dia menyatakan sangat bangga setiap kali memperingati 17 Agustus.

Narasumber

Dia menuturkan munafik bila ada orang mengatakan sampai 67 tahun ini Indonesia belum merdeka. Bahwa masih ada kekurangan, kemiskinan, ketidakadilan, termasuk korupsi, memang iya dan itu tantangan kita. Namun jangan lupa, kata dia, tanpa perjuangan para pendahulu mengusir penjajah dan perjuangan Soekarno, Hatta, dan lain-lain membakar emosi rakyat, jangan harap Indonesa merdeka.

“Jangan samakan dengan Amerika. Mereka sudah ratusan tahun merdeka. Kita baru 67 tahun,” ujar dia.

Suami tokoh pejuang dan mantan guru mendiang Siti Garwati serta ayah enam anak itu mengatakan meski makin tua, tetap berjiwa muda. Dia masih sanggup menghadiri undangan berbagai acara. Bila diminta jadi narasumber sejarah, dengan ringan dia akan hadir.

“Diminta jadi narasumber sejarah perjuangan, tak dibayar pun saya siap. Kalau perlu saya beri naskah kaset CD ini,” ujar dia seraya memberikan sekeping CD mengenai sejarah perjuangan pasukan RI di Gombong melawan Belanda.

Berbagai penghargaan dia sandang. Pria yang pernah ikut menumpas PKI Madiun 1948 itu penerima Bintang Gerilya dan berhak dimakamkan di taman makam pahlawan seluruh Indonesia. Dia memilih tetap tinggal di Gombong. Rumah tua di Desa Tunjungseto, warisan orang tuanya Glondong Tunjungseto Danusumarto, kini dijadikan museum dan rumah rakyat.

Apa resepnya hingga usia 85 tahun masih memiliki memori bagus dan sehat? Dia menuturkan selama ini menanamkan rasa ikhlas. Meski beberapa teman seperjuangan sudah berpangkat jenderal, Narto tak pernah iri. Terakhir menjabat lurah sudah dia syukuri.

Soenarto juga mendedikasikan diri untuk mengabdi. Ia tak pernah kecewa atas suratan Tuhan. Tak pernah berpandangan negatif pada siapa pun. Di ruang tamunya terlihat deretan foto Soenarto sebagai pejuang dan tokoh veteran berjabat tangan dengan Presiden Soeharto dan Presiden SBYdua kali di Istana Negara.

Bahkan dengan mantan penjajah pun dia berkawan baik. Dia bahagia bisa mempertemukan keluarga atau pasukan Belanda yang napak tilas ke Kebumen, khususnya ke Gombong.

Suatu ketika dia didatangi turis perempuan dari Belanda. Singkat kata, bule itu anak bekas tentara Belanda di Gombong yang terpikat gadis setempat. Gadis pribumi itu kemudian hamil. Si tentara Belanda berpesan ke anak perempuannya, jika sempat ke Indonesia agar ke Gombong dan mencari saudaranya.

“Saya runut kisah itu dan ingat memang ada gadis pribumi dihamili pasukan Belanda. Sayang, anaknya hanya hidup dua minggu dan dimakamkan di Desa Sidayu Gombong. Bule itu saya ajak ziarah ke makam saudaranya dan dia puas,” kata Narto.

Pada hari tua, selain sibuk menerima tamu, mengurus organisasi veteran, Soenarto masih menjadi narasumber bagi pelajar dan mahasiswa soal sejarah perjuangan. Ada di antara mereka mahasiswa S2 di luar negeri.

“Yang resmi wawancara membawa surat izin puluhan mahasiswa. Saya layani semampu saya,” ujar kakek 13 cucu itu.(Komper Wardopo-51/suaramerdeka)

=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
Share this post :
Comments
0 Comments

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

Pilih Berita

Arsip Berita Kebumen

 
Berita Kebumen : Tentang | Redaksi | Donatur | Iklan | TOS | Faq | Kontak
Copyright © 2009-2013. Berita Kebumen On Line - All Rights Reserved
Edited by BK Team Published by Berita Kebumen On Line
Supported by Google