Headlines News :
Home » , , » Basuki dari Dalang Turun ke Dalang

Basuki dari Dalang Turun ke Dalang

Written By berita kebumen on 20 Mei 2012 | 08.03

AMBAL (www.beritakebumen.info) - Dibesarkan di keluarga dalang membuat dunia wayang menjadi darah dan daging bagi Ki Basuki Hendroprayitno. Bahkan, saat remaja dia pernah “bertarung” melawan Ki Manteb Sudarsono. Pada lomba dalang remaja tahun 1982 itu, Ki Basuki mendapat juara pertama, sedangkan Ki Manteb didiskualifikasi.

Penampilan dalang asal Desa Ambalresmi, Kecamatan Ambal, Kebumen, itu bersahaja. Dia seperti menyelami bahasa wayang kulit yang diibaratkan toples tertutup berisi permen terbungkus rapat. Permen itu masih terbalut plastik pula. “Saya menyadari kalah dari Manteb,” kata Basuki, yang baru dilantik Bupati H Buyar Winarso SE sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen.

Menggali, mengembangkan, dan melestarikan kesenian menjadi spirit Ki Basuki dalam menakhodai DKD Kebumen 2012-2015. Dia menyatakan potensi kesenian di Kebumen cukup besar, antara lain jam janeng, wayang kulit, wayang golek, jemblung (menthiet), kepang pur, ketoprak, dan angguk.

Pengembangan kesenian, ujar dia, harus diawali oleh pelaku seni. Mereka ibarat penjual yang harus mampu mengemas dagangan dengan baik serta mampu membaca situasi dan pangsa pasar. Jadi penikmat seni dapat menikmati hasil kreativiitas itu. “Tanpa kemasan, jelas tak bakal laku,” kata lelaki kelahiran 16 Juli 1944 itu.

Dia tertarik mendalang karena kebiasaan mengikuti moyangnya yang juga dalang. Dari Partoguno, Rejowarsono, sampai Rediguno. Canggah Ki Basuki itu berasal dari Mataram. “Saya menghabiskan sisa umur ini untuk mengabdi ke masyarakat. Saya tidak minta anggaran dari pemerintah,” katanya.

Itu bukan isapan jempol. Kepengurusan DKD periode sebelumnya, yang mendapat alokasi Rp 10 juta dari APBD, pun tidak dia otak-atik. “Kami tidak ingin menyusahkan. Yang penting berbuat dulu. Selanjutnya menularkan ke para seniman untuk mengajari lingkungan sekitar. Seperti guru mengaji yang mengajari anak-anak di surau. Mereka melakukan hal itu dengan ikhlas,” tutur dia.

Untuk memperkenalkan wayang kepada generasi penerus, dia menggagas program wayang masuk sekolah. Namun, ujar dia, untuk menggedor pintu sanubari generasi muda agar berkarakter masih berat di tengah-tengah kegencaran serangan budaya Barat. Anak muda sekarang lebih tertarik sosok artis ketimbang tokoh wayang. Padahal, dia menginginkan ada penerus. Karena itu, dia mengader anak-anaknya. Kini, ketiga anak lelakinya dari enam bersaudara pun mendalang, yakni Santoso, Among Prasetyo, dan Sunarpo.

Wayang Golek

Setelah lulus SD di Ambalresmi, dia pindah ke Tanjungkarang, Lampung, untuk melanjutkan ke SMP. Keahlian mendalang bisa dia manfaatkan untuk membayar SPP.

Tahun 1962, dia bersekolah di Yogyakarta dan lulus SMEA 1965. Terjadilah peristiwa G30S, sehingga dia gagal mementaskan wayang. “Saat geger G30S, saya ingin mementaskan wayang golek,” ujar suami Sumarni itu.

Pulang ke kampung halaman, dia menggeluti wayang kulit. Dia mulai dikenal dan pentas di berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, Jambi, dan Kalimantan. Baru tahun 1990-an dia bisa mewujudkan keinginan mementaskan wayang golek.

Ya, dia memang berkeinginan menggali potensi wayang golek. Dia melakukan inovasi dan mengemas sedemikian rupa agar wayang golek bisa diterima masyarakat. Dia mengemas bentuk, cerita, dan konsep secara apik. Dia membeber cerita dari babad dan sejarah Diponegoro, Imam Bonjol, dan cerita Kebumen secara menawan. Dia juga membuat tokoh yang menggambarkan para pahlawan itu. Begitu pula tokoh orang Belanda agar mudah dipahami generasi muda.

Namun masyarakat sulit menerima wayang golek. Dikemas seperti apa pun, kata dia, masyarakat sulit menerima. Padahal, wayang golek di Kebumen-lah yang terlengkap. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta juga menggunakan wayang golek dari Kebumen untuk pendidikan di kampus.

Kendati belum mampu merebut hati masyarakat agar tertarik pada wayang golek, Ki Basuki konsisten melestarikan. “Ciri khas wayang golek di Kebumen bernapaskan Islam,” tutur dia.

Tak seperti wayang kulit yang menggunakan bahasa kiasan, wayang golek langsung ke logika. Cerita disampaikan langsung berupa kenyataan.

Menanggapi perkembangan kesenian, dia menyatakan para seniman dituntut memiliki kemampuan, prasarana-sarana penunjang, dan kecerdasan. Sebab, saat ini penonton cenderung lebih kritis. “Baca pangsa pasar, kalau tidak ingin tenggelam,” tuturnya.

Kini, wilayah pementasan Ki Basuki pun meluas hingga luar daerah. Dia, misalnya, sudah berpementas enam kali di Jambi. Bahkan, kemarin pun dia kembali pentas dalam perayaan ulang tahun Jambi dan paguyuban warga Kebumen di Jambi. (Arif Widodo-51/suaramerdeka)


=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE
Share this post :
Comments
0 Comments

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

Pilih Berita

Arsip Berita Kebumen

 
Berita Kebumen : Tentang | Redaksi | Donatur | Iklan | TOS | Faq | Kontak
Copyright © 2009-2013. Berita Kebumen On Line - All Rights Reserved
Edited by BK Team Published by Berita Kebumen On Line
Supported by Google