Headlines News :
Home » » Pabrik “Mexolie”, Pasok Kebutuhan Minyak Belanda

Pabrik “Mexolie”, Pasok Kebutuhan Minyak Belanda

Written By berita kebumen on 28 Oktober 2011 | 06.51

KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Sejak dahulu, Kabupaten Kebumen kaya akan buah kelapa. Sejarah menunjukkan kekayaan itu pernah dimanfaatkan Pemerintah Hindia Belanda saat mereka berkuasa. Tahun 1851, berdiri pabrik pengolahan kopra untuk diolah menjadi minyak kelapa.

Pabrik minyak kelapa yang dinamakan Mexolie itu berdiri di area sekitar empat hektar, berada di Kelurahan Panjer, Kebumen. Memang, posisinya yang strategis, Panjer dijadikan oleh Belanda sebagai basis pemerintahan. Hal itu terlihat dari banyaknya fasilitas yang dibangun.

Misalnya, tidak jauh dari lokasi pabrik terdapat stasiun kereta api, rumah sakit atau yang dahulu dikenal dengan sebutan Sendeng. Sendeng berasal dari kata Zending yang berarti politik penyebaran agama pemerintah kolonial Belanda dengan cara pertolongan kesehatan.

Dalam catatan sejarah Mexolie di Kebumen merupakan salah satu dari pabrik minyak kelapa yang dibangun sejumlah kota di pulau Jawa. Di antaranya, Mexolie Cilacap, Mexolie Kediri, Banyuwangi dan Mexolie Rangkas Bitung. Minyak – minyak tersebut diproduksi guna menyuplai kebutuhan minyak kelapa Belanda.

Jika melihat dari foto-foto dokumentasi, pada masa Belanda sebagian areal lahan pabrik digunakan untuk proses pengeringan kopra. Di samping tempat menjemur kopra, terdapat jalur rel lori yang berfungsi untuk mengangkut kopra yang telah kering. Selanjutnya kopra diolah dengan menggunakan pemeras kelapa yang ada di dalam pabrik. Tampak pula dalam proses pengolahan kelapa dilakukan secara berurutan dari satu gedung pabrik ke gedung pabrik lainnya. Yakni secara bertahap, mulai proses penjemuran hingga pengemasan. Kapasitas produksi mexolie NV Oliefabrieken Insulinde (nama pabrik minyak kelapa sebelum dinasionalisasi, red) di Kebumen cukup besar.
Hal itu melihat mesin diesel yang digunakan penggerak bertenaga 200 tenaga kuda serta rangkaian mesin mesin lainnya.

Dalam perjalanannya, Sari Nabati pascakemerdekaan menjadi aset Provinsi Jateng. Pabrik Sari Nabati memberikan kontribusi memenuhi kebutuhan minyak kelapa bagi masyarakat. Untuk peningkatan hasil produksi, Sari Nabati mengadakan program kopra di desa-desa penghasil kelapa.
Hasilnya, sekitar tahun 1961-1972, produksi minyak kelapa meningkat. Pabrik tersebut pun menyerap tenaga kerja bagi masyarakat desa di Kebumen. Saat itu Sari Nabati juga difungsikan sebagai penghasil pabrik es batu balok.

Sekitar tahun 1985, pabrik minyak kelapa tutup. Kemudian beralih fungsi menjadi gudang penampungan tebu sementara sebelum diolah menjadi gula pasir di pabrik gula Yogyakarta.
Tahun 1989 pernah disewa oleh pabrik rokok untuk menampung cengkeh.
Tahun 1990 pernah disewakan sebagai gudang bijih plastik, gudang beras bulog, kantor pajak, tempat penyimpanan sementara alat-alat berat RSUD, sampai penampungan sementara kompor dan tabung gas dalam program konversi Elpiji.

Mangkrak

Lebih dari 25 tahun mangkrak, sebagian besar bangunan bekas pabrik minyak kelapa tersebut sudah rusak. Aset-aset pabrik juga hilang. Yang masih tersisa ialah bangunan utama rumah karyawan pabrik Mexolie. Selain masih utuh, bangunan ini layak huni. Rumah –rumah tersebut memiliki gaya arsitektur Indisch. Gaya ini memeperlihatkan adanya perpaduan antara budaya barat dengan budaya timur.

Perkembangan terakhir, kawasan eks Sari Nabati itu saat ini sudah dilirik oleh investor untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu yang akan dinamakan “Mexolie Land”. CV Bumen Alam Indah telah melakukan paparan terkait desain pengembangan kawasan wisata terpadu tersebut. Pemaparan itu dilakukan di hadapan Bupati Kebumen H Buyar Winarso SE akhir September lalu.

Menurut kepala perusda PT Citra Mandiri Sayuti yang mengelola aset tersebut, selama tidak beroprasi bekas pabrik Sari Nabati masih mendapatkan biaya perawatan Rp. 6 juta per tahun. Di lokasi bekas pabrik sebagian masih digunakan untuk sarana olahraga yakni lapangan badminton, sekolah taman kanak-kanak serta perumahan yang disewakan untuk umum.

Adapun sewa rumah di bekas kompleks prumahan karyawan Sari Nabati ini pun terhitung murah yakni Rp. 900.000/tahun. Pihaknya telah memberitahukan kepada para penyewa terkait rencana pembangunan kawasan wisata ini, sehingga kontrak mereka sudah tidak bisa diperpanjang lagi.

“Di Jateng, kami memiliki 72 aset. Ada tiga aset sudah dikelola pihak ketiga dan sebanyak 32 masih mangkrak,” ujar Sayuti.

Selain bangunan, di dalam kompleks pabrik tersebut juga terdapat situs Sendang Kalasan Panjer. Lokasi tersebut dipercaya sebagai bekas Kerajaan Panjer Kuno yang telah dikenal sejak jaman kerajaan Kediri. Saat dibangun pabrik minyak kelapa tahun 1851, oleh Belanda sendang tersebut diubah menjadi sumur. Sumur tersebut masih ada hingga saat ini.
Juga terdapat situs Pamokshan Gajah Mada yang terdapat di dalam kompleks eks Sari Nabati. Lokasinya di dalam sebuah ruang gedung.
Saat ini situs tersebut bercampur dengan kursi-kursi rongsok. Menurut penuturan warga, pada hari-hari tertentu sering terdengar suara gong menggema di lokasi itu.
(Supriyanto-53/suaramerdeka/okt'11)

=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
Share this post :
Comments
0 Comments

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

Pilih Berita

Arsip Berita Kebumen

 
Berita Kebumen : Tentang | Redaksi | Donatur | Iklan | TOS | Faq | Kontak
Copyright © 2009-2013. Berita Kebumen On Line - All Rights Reserved
Edited by BK Team Published by Berita Kebumen On Line
Supported by Google